Jumat, 26 Juli 2013

Cemburunya Bidadari Surga

Aku mendengar suara sangat dahsyat yang menikam telingaku. Entah, apa itu. Jemariku tergerak, mataku sedikit terbuka, sedang mulutku masih mengatup. Pandanganku lurus tapi cahaya terang menyilaukanku. Apa ini? Apa yang terjadi? Secara perlahan badanku bergerak, duduk, berdiri lalu berjalan. Aku tak mau seperti ini. Mengapa aku bisa bergerak sendiri? Aku masih ingin memejamkan mata.

Sejauh mata memandang, terbentang luas dataran maha rata. Semua manusia juga terbangun dari tidur panjangnya. Astaga, aku telanjang. Hah, mereka juga telanjang. Tapi siapa mereka? Aku tak mengenalnya. Di mana ayah-ibuku? Di mana istri dan anak-anakku? Di mana teman akrabku? Tetangga, sahabat, guru, di mana orang-orang yang aku kenal?

Semua berjalan pada satu titik tujuan. Begitu juga dengan aku. Aku berjalan dengan rasa dahaga yang amat mencekik. Kuedarkan pandanganku ke kanan dan ke kiri. Mengapa mereka dengan riang menaiki kuda? Sedangkan sebagian lain berjalan dengan kaki telanjang sepertiku. Mengapa pula ada yang berjalan dengan menggunakan perut bak ular? Malang sekali. Di mana kaki-kaki mereka? Aduh, tak hanya tenggorokan yang kemarau menderaku, panas yang amat menyengat juga membakar kulitku. Aku tak kuasa mendongakkan kepala. Matahari berada pas sejengkal dari ubun-ubunku. Hah, apa-apaan ini? Mengapa begini? Kehidupan apa ini? Tanpa kuayunkan langkahku, kakiku bergerak sendiri. Sedikit cepat tetapi tak mampu menandingi langkah kuda kaum bahagia itu. Setidaknya aku bersyukur karena sedikit lebih beruntung ketimbang mereka yang merangkak seperti bayi.

Aku dimana? Mereka siapa? Mengapa aku tak mengenal satu pun dari mereka? Mereka larut pada keadaan masing-masing hingga tak mampu bertegur sapa bahkan sekedar menoleh. Aku pun sibuk dengan diriku. Panas, lapar, haus, berkeringat, dan….
 Ya Tuhan, air apa ini yang menggenang di lututku. Semakin sukar kakiku melangkah. Dan mereka yang merangkak, hampir tenggelam, tak bisa bergerak.

Entah berapa lama perjalanan ini. Dan akhirnya semua terkumpul di tanah lapang yang amat luas.  Kulihat di depan ada sebuah panggung panjang dan berdiri di atasnya dua puluh lima pemuda tampan dan gagah sembari membawa bendera. Meski agak kesulitan, kupaksa menerka tulisan yang terpampang di bendera itu. “Muhammad Rasulullah”, sepertinya aku kenal tulisan itu. Astaga, itu nama Nabiku, Muhammad. Tanpa digiring, aku sudah berdiri di barisan itu meski berada di sisi belakang.

Bosan dan muak rasanya berdiri lama tanpa sekat kepala. Terdapat payung besar terbentang di barisanku bagian depan. Lagi-lagi aku kesal, mengapa tak sampai di tempatku berdiri? Tapi, setidaknya lagi-lagi aku lebih beruntung dibanding mereka yang baru datang dengan perut yang tak tega untuk dilihat.

Semua mengantri pada satu pintu, entah pintu apa itu. Di sana terdapat makhluk yang bukan manusia sibuk memanggil nama satu per satu. Matahari masih menyengat. Kenapa tak ada sore, malam dan petang? Ah, benar-benar kehidupan yang sulit dimengerti. Dan segala puji bagi Tuhan semesta alam, umat Nabiku Muhammad mendapat kesempatan pertama mengantri di depan pintu itu.

Semakin dekat dengan pintu itu, dadaku semakin berdegup kencang, badanku tiba-tiba menggigil. Ingin kulari tetapi kakiku memberat. Tak ada gerak mundur, hanya maju selangkah demi selangkah. Ya, ya. Satu hal yang amat melekat di depan mataku. Sebuah timbangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya berdiri tegak gagah di depanku. Ah, bagaimana ini? Aku takut. Aku malu. Aku tak mau. Ternyata setelah melewati pintu timbangan itu, manusia digiring ke arah kiri atau kanan. Entah menuju ke manakah mereka, masih terlalu buram dan gelap untuk aku selidiki.

Dengan terpaksa aku memenuhi panggilan namaku. “Kamu Fulan?” ucap makhluk itu.

“Iya,” jawabku.

Kupejamkan mataku. Mulutku ingin membela tapi entah mengapa tiba-tiba terbungkam. Tangan dan kakiku berbicara tentang apa yang aku lakukan dulu di dunia. Ah, celaka! aku tak bisa lagi berbohong. Bagaimana ini?

“Neraka!” teriak makhluk itu. Sontak mataku membelalak. Kulihat api panas menganga siap menjilat siapa saja. Aduh, mana ayah-ibuku? Mana istri dan anak-anakku? Temanku, tetanggaku?

Dengan terpaksa aku turuti kemauan makhluk itu. Alamak, makhluk apa lagi ini? Ia begitu bengis, bermuka merah, berbadan besar, bertangan baja dengan membawa cambuk yang terbuat dari api. Diakah malaikat penunggu neraka? Aduh, matilah aku. Tamatlah aku. Hancurlah aku. Tak satu pun ada yang menoleh kepadaku. Hanya tatapan mata kemarahan makhluk di depan neraka itu yang bisa kuterima. Aduh, bagaimana ini?

Dengan terpaksa kuayuhkan kakiku. Dan, “Hai Fulan, ayo ikut aku!” ajak seorang makhluk putih tampan yang sejak tadi belum aku jumpai. Tanpa bertanya aku ikuti dia. Paling tidak, dia menuju ke arah yang berlawanan dari danau luapan api itu. Syukurlah, aku sedikit terselamatkan.

Usai sampai di sebuah tempat yang tak kutahu, makhluk itu hilang. Entah kemana. Lalu, “Hai, Fulan. Karena kasih-sayang-Ku, masuklah kau ke dalam surga.” Aku hanya bisa mendengar suara itu. Mataku tertutup, tak bisa melihat. Gelap. Gegap. Tapi suara itu jelas. Kucoba menegakkan kepala, tapi tak kuasa. “Fulan, masuklah surga karena kasih-sayang-Ku.” Suara itu kembali terdengar.

Aku bingung, “Bagaimana bisa?” gerutuku dalam hati.

“Fulan, masuklah surga karena kasih-sayang-Ku. Sebab selama di dunia, kau tak pernah makan mendahului istrimu.” ulang-Nya. Dan kini suara itu menyebut alasan kenapa aku bisa masuk surga. Ah, aku tak seberapa yakin. Bagaimana tidak, sebuah amal yang sesederhana itu mampu menyelamatkan ahli neraka dari jilatan api Jahanam? Apakah nilai kebaikan yang tulus mampu melampaui sebuah keimanan yang tercemar? Aku tak rajin beribadah, juga jarang berpuasa. Tak pernah salat sunnah. Ah, entahlah yang penting aku selamat dari cambukkan makhluk yang menyeramkan tadi.

Lega dan tak sabar ingin segera menikmati surga yang konon penduduknya akan disambut 40 bidadari cantik, putih tiada tandingnya. Aku percepat jalanku. Tak jauh dari langkahku tertulis, “Selamat Datang, Wahai Para Penduduk Surga!. Aduhai, indah sekali. Inikah yang disebut taman surga? Kulihat wanita-wanita cantik yang menyambut di sana. Putih, bersih, mancung, berseri, dan tak pernah aku temui wanita-wanita seperti ini sebelumnya. Aku hentikan langkahku. Aku teringat kenapa aku bisa masuk surga. Oh, ke mana istriku sekarang? Di mana dia? Tidakkah ia menyambutku di pintu masuk taman surga ini? Aku hentikan derap langkahku enggan mendekat taman surga itu. Aku memandang jauh tak pula mendapatkannya. Istriku, kau ke mana, Sayang?

Di depan mataku, berjejer puluhan wanita cantik sembari melambaikan tangan. Tak satu pun dari mereka yang kukenali. Istriku, istriku. Aku tak akan mau masuk taman itu sebelum bertemu istriku. Kenapa dia tak menyambutku. “Tuhan, gantilah puluhan bidadari itu dengan satu wanita yang membuatku masuk surga, istriku.” keluhku.

Dan dengan sekejap para bidadari itu tak terlihat lagi. Tiba-tiba, melela dengan amat gemulai dan lembut wanita cantik sekali. Ia melambaikan tangannya. Aku tahu dia. Dia istriku. Aku berlari secepat mungkin. Kukecup keningnya. Dia mencium tanganku. Kupandang lekat wajahnya, dia terlihat jauh lebih anggun. Senyumnya mengumbar cinta yang tak terkalahkan. Dia amat cantik sekali. Cantiknya sungguh keterlaluan. Kukecup lagi keningnya. “Apa kabar, Sayang?”  tanyaku.

***

Aku tersentak bangun. Begitu deras keringat di keningku. Kucari ponselku. Ternyata masih pukul 03.15. Kupandangi istriku. Wajahnya putih bersinar meski sedikit pasi. Ya Tuhan, wajahnya sama persis seperti yang aku lihat tadi. Ah, ternyata itu hanya mimpi. Ya, tak ada lagi orang yang merangkak bak ular. Tak ada lagi makhluk yang menyeramkan. Tak ada lagi taman surga yang dihiasi puluhan bidadari cantik. Sekarang hanya ada istriku yang tergeletak tenang di sampingku. Biasanya ia sudah bangun dan salat malam. Ah, selama beristri dengannya, tak pernah aku salat malam. Ia pun tak pernah memprotes dan mendikteku. Karena letih bekerja, ia hanya membangunkanku untuk salat subuh. Itu pun terkadang matahari hendak menyingsing.

Tak ada salahnya, aku salat sunnah malam ini. Kukecup kening istriku. Kuelus wajah cantiknya sembari menepuk lembut pipinya. Ia membuka mata.

Gak salat malam, Sayang? Mumpung masih ada waktu lho. Salat bareng, yuk?” ajakku.
Ia hanya membalas dengan senyuman. Senyuman yang tak pernah begitu mengembang sebelumnya.

***

Kami siap untuk salat malam berjamaah. Subhanallah, sungguh istriku terlihat amat cantik justru tatkala mengenakan mukenah meski mukanya agak memucat. Mungkin ia kelelahan.

“Kamu sakit, Sayang?” tanyaku.

Dia menggeleng. “Aku hanya ingin menjadi wanita dunia yang mampu membuat cemburu para bidadari surga, Mas.” katanya.

Kuamini cita-citanya. Kami pun salat dua rakaat.

Kusudahi salat kami dengan salam. Lalu beristighfar dan berdoa. Istriku masih bersujud, mungkin ia meminta citanya dalam sujud terakhirnya. Aku biarkan saja dia sembari membaca al-quran surat Ar-Rahman.

Azan subuh berkumandang tetapi istriku tetap saja dalam keadaan sujud. Kucoba menyadarkannya. Kusentuh pundaknya.

“Sayang, sudah adzan subuh.” bujukku.

Tapi ia tetap membisu. Kugerak-gerakkan tubuhnya. Ia kaku dan tak bernapas. Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun ia meninggal dalam sujudnya. Ia bertemu Tuhannya dalam balutan putih mukenahnya. Ia mampu meraih cita-citanya.  “Aku hanya ingin menjadi wanita dunia yang mampu membuat cemburu para bidadari surga, Mas.” Aku menangis haru teringat ayat Tuhan yang tadi kubaca di surat Ar-Rahman; Di dalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang cantik dan jelita.


Kairo, 06 November 2012 ; Adzan Subuh
*Setelah mendengar kabar seorang mahasiswi Undip meninggal karena kecelakaan dan usai membaca motto hidupnya, akhirnya saya putuskan untuk menulis cerpen ini.


5 komentar:

  1. well written, good story. mengalir bgt dan...romantisnya juga berkesan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak May. Semoga bisa berkarya seperti mbak. :)

      Hapus
  2. subnallah ,,,great, amazing, and awasome ust,,,:)

    BalasHapus