Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2014

Arjuna

Selepas salat maghrib tadi, Alhamdulilah saya diberi kesempatan menghadiri pengajian Fikih Aswaja yang diampu oleh KH. Abdurrahman Nafis di masjid Kemayoran – Surabaya. Malam ini beliau mengupas bab tentang Wali Songo atau Sembilan wali yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Begitu lugas dan bayannya beliau menjelaskan sejarah Wali Songo dan cara berdakwah yang mampu merangkul masyarakat tanah Jawa kala itu.

Pembahasan pun bergulir hingga pada Mbah Sunan Kalijaga. Mbah Sunan Kalijaga terkenal dengan perwayangannya. Beliau amat piawai menjadi dalang. Penduduk Jawa –khususnya Jawa Tengah- sangat menggandrungi pertunjukkan wayang dan menonton setiap kali ada pagelaran wayang. Di sinilah Mbah Sunan Kalijaga sangat brilian dalam menyusupkan sedikit-demi sedikit tentang Islam, di antaranya; Menonton wayang yang digelar Mbah Sunan Kalijaga gratis tidak dipungut biaya, hanya mengucapkan Kalimat Sodo atau kalimat syahadat yang berisi pengesaan Tuhan dan pengakuan akan kenabian Baginda Muhammad. Kalimat Sodo itu diucapkan sesaat sebelum memasuki pintu masuk yang dinamakan oleh Mbah Sunan Kalijaga dengan sebutan Gapuro. Gapuro sendiri dari kata bahasa Arab Ghafuran yang berarti Sang Maha Pengampun. Hal ini dimaksudkan bahwa siapa saja yang menyerukan Kalimat Sodo, maka ia akan menuju ke Gapuro dan dosa-dosanya akan diampuni.

Jumat, 03 Oktober 2014

Membela Agama Allah

“Jika kita ingin membela Nabi Muhammad SAW, kita tak boleh lupa bahwa beliau adalah Rasulullah yaitu utusan Allah. Sudah barang pasti kita harus membela beliau dengan cara Allah atau dengan cara yang diamini dan diridoi oleh Allah karena beliau –sekali lagi- Rasulullah (utusan Allah) bukan Rasuluna (utusan kita). Bila kita menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai Rasuluna (utusan kita), maka kita akan semau kita dalam membelanya. Namun jika kita sadar bahwa beliau Rasulullah (utusan Allah) dan kita membawa nama Allah, kita akan berhati-hati dalam membelanya.”

Itulah salah satu dawuh dari Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri saat terjadi pelecehan, dan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW beberapa tahun lalu. Tentu beliau jauh lebih dekat dan mempunyai ikatan yang kuat dengan Nabi Muhammad SAW ketimbang kita lantaran beliau cucu Baginda Nabi dan mengamalkan apa yang telah diperintahkan oleh Embah Kakungnya.

Selasa, 22 Juli 2014

Tuhan Mengadiliku Soal Pilpres 2014

Baiklah Tuhan, hamba akan bersaksi di hadapan-Mu tentang apa yang sudah hamba lakukan dalam Pemilu Pilres 2014 ini:

Tuhan, hamba bersumpah demi nama-Mu yang suci, hamba adalah pendukung dan pemilih calon pasangan Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subiano dan Hatta Rajasa. Dan selama berjalannya Pilpres baik sebelum pencoblosan atau seusai pencoblosan, hamba tidak mati-matian mendukung capres-cawapres pilihan hamba dan hamba tidak membabi buta menghina, merendahkan, dan bahkan menfitnah capres-cawapres lain yaitu Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Tuhan, sejujurnya ada salah seorang teman yang menanti tulisan-tulisan hamba di Facebook maupun blog tentang capres-cawapres yang hamba dukung karena kebetulan pilihan teman hamba itu sama seperti pilihan hamba, tapi hamba menolaknya lantaran hamba tak ingin tulisan-tulisan hamba mencederai beberapa teman hamba yang berbeda pandangan soal pilpres dengan hamba.  

Selasa, 15 Juli 2014

10 Poin Menjawab Tuduhan Kesesatan terhadap Quraish Shihab

“Tentang kemuliaan di sisi Allah pak Quraisy, itu kan Nabi Muhammad sudah dijamin sebagai manusia yang paling mulia yang masuk surga gitu? Nah untuk kita-kita manusia yang hidup pada zaman sekarang atau masa depan atau masa yang akan datang, apakah ada kemungkinan mengejar status itu, paling tidak hampir seberapanyalah gitu?” tanya Hedi Yunus.

“Tidak benar. Saya ulangi lagi tidak benar bahwa Nabi Muhammad mendapat jaminan Surga. Nahh.. surga itu hak prerogratif Allah. Ya tho? memang kita yakin bahwa beliau mulia. kenapa saya katakan begitu? Karena ada seorang sahabat nabi dikenal orang… terus para Sahabat di sekitarnya berkata, bahagialah engkau akan mendapat surga. Kemudian Nabi dengar, siapa yang bilang begitu, Nabi berkata, tidak seorang pun orang masuk surga karena amalnya. Sahabat bertanya, Hingga Anda wahai Rasulullah. Nabi menjawab iya bahkan saya pun...” jawab Prof. Dr. Quraish Shihab.

***

Minggu, 06 Juli 2014

Surat Terbuka untuk Kita Semua

Google.com
Pemilu Pilpres 2014 kali ini cukup berbeda dengan Pemilu Pilpres tahun-tahun yang lalu. Berbagai ‘surat terbuka’ tercipta berhamburan bak jamur di beragam media. Sebut saja Tasniem Fauziyah, putri Amien Rais, yang menulis surat teruntuk Gubernur Jakarta yang sedang mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia. Setelah Tasniem, muncul surat-surat terbuka lain yang intinya bertujuan untuk saling mengejek dan mengajak memilih salah satu capres-cawapres tertentu.

Bukan bermaksud membeo, meskipun sebagai rakyat biasa entah mengapa rasanya saya kok juga ingin menulis ‘surat terbuka’ tapi bukan bertujuan seperti ‘surat terbuka’ yang sudah-sudah. Dan ‘surat terbuka’ ini saya tujukan untuk masyarakat Indonesia dalam Pilpres 2014.

Selasa, 20 Mei 2014

Isu Syiah – Wahabi di Pilpres 2014

Beberapa teman saya membuat status dan komentar di facebook tentang adanya isu Syiah – Wahabi di Pilpres 2014. Mereka takut bila Jokowi-JK menang, PDIP akan mengangkat Jalaludin Rahmat (Kang Jalal) yang selama ini masyhur beraliran Syiah menjadi Menteri Agama. Mereka khawatir Indonesia di’syiah’kan. 

Dan jika Prabowo-Hatta yang terpilih, jangan-jangan jabatan Menteri Agama akan diserahkan ke kader PAN yang notabene dari ormas Muhammadiyah atau PKS yang memang agak berbeda dengan Ahlusunnah wal Jamaah dalam menerapkan ‘beberapa’ ajaran Islam. Mereka gelisah Indonesia akan di’wahabi’kan tidak boleh tahlilan, selawatan, maulidan, dll. Bahkan sebagian mereka menyatakan GOLPUT solusi terbaik untuk Pilpres tahun ini.

Jumat, 25 April 2014

Meniru Nabi, Bukan Menabikan Diri

Sebagai umat Islam yang taat, sudah sewajarnya kita mematuhi rambu-rambu agama yang telah digariskan oleh Tuhan. Tuhan mengabadikan rambu-rambu beragama melalui dua undang-undang besar yaitu Al-Quran dan Hadis yang keduanya diproklamirkan dan dipraktekkan oleh utusan-Nya, Baginda Nabi Muhammad Saw.

Seluruh peraturan beragama bersumber dari Al-Quran dan Hadis, mulai dari tata cara bermuamalah dengan Tuhan hingga bagaimana berhubungan dengan sesama makhluk baik yang hidup maupun yang mati. Saya tak akan membahas Al-Quran karena Al-Quran adalah firman Tuhan yang pasti menjadi harga mati untuk digali secara makna dan arti, guna diterapkan dalam kehidupan seorang Muslim sehari-hari. Adapun Hadis yang merupakan sikap, ucap, ketetapan, sifat Nabi, tak semua umat Islam mengetahuinya secara menyeluruh, bahkan ada sebagian kelompok yang menentang dan menolaknya untuk dijadikan sumber hukum Islam.

Jumat, 11 April 2014

Mengapa PKS yang Sering Saya Kritik?

Pertanyaan seperti itu muncul di benak sebagian kawan-kawan saya. Memang tak jarang PKS menjadi bahan kritikan saya, meski partai lain tak sesering PKS. Perlu digarisbawahi, saya bukan salah satu kader partai yang mengikuti Pemilu baik tahun-tahun lalu maupun 2014. Saya juga bukan orang pesanan yang dengan gampang dibayar untuk membuat suatu opini atau wacana yang bertujuan membenci suatu kelompok. Kritikan saya bukan berlandaskan api kebencian kepada sesama muslim melainkan -menurut saya- perlu ada yang dibenahi dari pola pikir sebagian saudara-saudara seiman saya yang menjadi kader PKS.

Mungkin sebagian teman saya yang menjadi lawan politik PKS akan berkipas-kipas membaca tulisan saya ini, biarlah terserah mereka karena saya menulis bukan dari desakan orang lain tapi keinginan diri sendiri. Lantas mengapa partai lain tak seperti PKS dalam pandangan saya? Karena PKS dengan getol membawa simbol-simbol Islam untuk meraup suara masyarakat dan menduduki kursi pemerintahan dan ketika PKS melakukan kesalahan –yang sebenarnya wajar sebab manusia-, apalagi kesalahan yang fatal, maka secara otomatis nama Islam ikut tercoreng.

Selasa, 08 April 2014

Golput (bukan) Jalan Keluar yang Benar

Tiga hari yang lalu, 5 April 2014, warga Indonesia di Mesir telah usai melakukan Pemilu DPR RI dan berjalan dengan baik. Saya beruntung bisa hadir dan mencoblos salah satu caleg kala itu. Sebagai warga negara yang baik, kiranya tak  pantas bila acuh dan emoh dengan Pemilu meskipun kita sering merasa risih bin jijik dengan tindakan dan kinerja para wakil rakyat kita.

Pemilu secara tak langsung mengajari kita berbaik sangka kepada sesama manusia. Ya, tentu kita tak boleh mendahulukan dugaan buruk kita kepada para caleg yang telah ‘lolos’ seleksi -sengaja saya tulis dengan kata lolos bukan lulus karena kedua kata memiliki makna yang berbeda- dan wajah mereka nampang di kertas suara. Dari mereka ada yang mampu dan layak dan sebagian dari mereka ada pula yang berbekal janji yang tak disertai nurani dan otak.

Senin, 24 Maret 2014

Tak Semua Orang Jawa itu 'Jawa'

Maaf, itulah kata yang kiranya layak untuk membuka tulisan saya ini. Maaf, karena saya tidak sedang bermaksud mengangkat tema rasisme atau mengunggulkan suku tertentu dan meremehkan suku yang lain. Tidak, sama sekali tidak begitu. Bila anda masih saja mengira bahwa tulisan saya ini akan menjatuhkan ras/suku lain selain Jawa, lebih baik anda tutup jendela yang menampilkan tulisan saya ini di komputer, laptop, atau ponsel anda dan buka buku anda.

Saya sendiri bukan asli keturunan Jawa. Salah satu anugerah yang Tuhan berikan kepada saya adalah saya terlahir dari dua suku atau etnis yang bercampuran, atau bahasa kerennya blesteran. Ya, ibu saya memang Jawa dan sepertinya masih ada keturunan saudagar Arab yang bermukim di Gresik-Jawa Timur, karena kakek saya dari ibu berhidung mancung dan berbadan tinggi. Tapi sayangnya, ciri berhidung mancung dan berbadan tinggi ini menitis ke adik saya bukan saya. Sedangkan bapak saya asli dari Bangkalan, Pulau Madura.

Kamis, 20 Maret 2014

Ngaji Dulu, Baru Terkenal

Beberapa hari lalu saya mendengarkan ceramah Gus Mus pada acara 1000 hari wafatnya Gus Dur. Salah satu hikmah yang disampaikan oleh Gus Mus saat itu kurang lebih, "Jangan terkenal dulu, baru ngaji. Tapi ngaji dulu baru terkenal. Karena kalau sudah terkenal, gak akan sempat ngaji. Akhirnya menjadi ustaz gak jelas."

Ingatan saya langsung menangkap salah satu pesan Syekh Yusri Rusydi kala pembukaan pengajian tasawuf kitab Manajilu As-Sairin, dalam mukadimah beliau mengingatkan kami untuk tidak terburu-buru masyhur di masyarakat, sebab bila sudah terkenal dan dibutuhkan orang banyak, kita lupa akan waktu untuk kita sendiri, dan kita tak punya momen untuk berduaan dengan Tuhan.

Minggu, 09 Maret 2014

Hubungan Korupsi dan Doa Sebelum Makan

(dok. google. bukan nasgor karya saya)
Tadi pagi usai bikin nasi goreng dan hendak menyantapnya, saya terdiam sejenak mengingat-ingat doa sebelum makan. Hampir saja doa yang sudah saya hafal semenjak kecil itu hilang dari ingatan lantaran jarang saya membacanya dan saat menatap makanan yang sudah siap, saya hanya melafalkan basmalah lalu tangan saya mengeruk makanan dengan lahap.

Sewaktu membaca doa sebelum makan, terbesit di pikiran saya mengapa doa sebelum makan ada dua harapan di dalamnya, yaitu keberkahan dalam rejeki dan keselamatan dari api neraka. “Allahumma Barik Lana fi Ma Razaqtana wa Qina Azab An-Nar.”

Senin, 17 Februari 2014

'Nyaleg' ala Orang Indonesia dan Nabi Yusuf

Rupanya saya yang jauh dari tanah air saja muak melihat foto para calon wakil rakyat yang kurang jelas bahkan gak jelas di deretan jalanan.  Itu pun saya melihatnya masih dari media online, entah bagaimana jijiknya masyarakat Indonesia yang setiap hari bertemu dengan foto-foto yang tak lagi memiliki rasa jengah.

Jumat, 10 Januari 2014

Kesetiaan, Norma dan Agama


Pagi ini –mumpung hari libur- saya menonton film yang berjudul From Bandung With Love. Saya tidak akan menceritakan alur cerita film itu. Tapi paling tidak, saya bisa mengambil pelajaran yang cukup menarik dari film itu yaitu arti kesetiaan. 

Setelah menonton film itu, saya sempat berbincang dengan beberapa teman saya. Tentu bahasan kami tak keluar dari film itu. Namun, sebelum tulisan saya ini lebih jauh, agaknya kurang sopan bila saya -yang masih belum berkomitmen dengan seseorang manapun- tidak kulo nuon berkicau tentang kesetiaan di depan anda yang sudah berpasangan dan hidup berumah tangga.

Saya hanya ingin berbagi obrolan saya bersama teman-teman saya. Meski tak satu pun di antara kami yang sudah berkomitmen dengan seorang wanita, tapi paling tidak hampir semua dari kami pernah mengalami dan merasakan makna kesetiaan.

Rabu, 11 Desember 2013

Mengidolakan Nabi dan Menabikan Idola

Semenjak 1400 tahun yang lalu, Tuhan dengan mantap telah memutuskan untuk memutus rantai kenabian dengan mengutus seorang Nabi penyempurna ajaran. Nabi pamungkas yang memangkas segala sesuatu yang berlebih-lebihan. Nabi penutup yang mengatup berbagai pintu kesesatan yang dibungkus dengan tirai putih bertuliskan kalimat-kalimat kebaikan. Nabi pendidik yang menginspirasi Abu Bakar untuk memerangi kemurtadan dan membongkar kebusukan Musailamah Al-Kadzab dan pengikutnya, para pengaku teman dekat Tuhan. Nabi yang tegas dan cerdas hingga tercetus dari akal tajam Al-Faruq Umar bin Khattab membuat bid’ah-bid’ah keindahan semacam membukukan Al-Quran. Nabi yang ramah tamah yang mengajari Usman bin Affan berbuat santun, sabar meski pada akhirnya nyawanya berakhir di genggaman tangan penikam kekuasaan. Nabi pemberani yang berhasil melatih Ali bin Abi Thalib untuk tidak jemu memandang ujung pedang dan pisau dalam menghadapi lawan.

Semua pemeluk agama Islam telah bersepakat tak ada lagi Nabi yang dikirim dengan risalah Tuhan. Semua pemeluk agama Islam mengimani bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Namun anehnya, tak nadir kita temui sekarang, para pemeluk agama yang merasa lebih agamawan justru memuja dan memuji idola yang mereka tokohkan hingga melabelkan pada dirinya “Bebas dari dosa dan kesalahan”. Saat sang idola terbukti bersalah serta terkuak segala kebusukan yang ada, dengan bangga mereka melantangkan suara serta mengacungkan tangan, “Itu fitnah! Itu hanya rekayasa! Dan itu menyalahi kenyataan!”

Saya, anda, dia, mereka dan kita hanyalah hamba Tuhan biasa yang kapan saja bisa bernoda. Tak perlu mengultuskan seseorang yang kita anggap jauh dari perbuatan nista. Tapi cukup hormati dan muliakan dia dengan apa adanya. Bila bersalah, katakan salah tanpa mencerca. Jika berlaku benar, tak usah dipuja bak dewa. Kala mata mudah direkayasa namun nurani selalu sangup memilih fakta. Janganlah sampai kita tuna nurani hingga buta akan realita.

Kairo, 14 Juli 2013

Minggu, 10 November 2013

Keakraban Kalimat Takbir dan Perjuangan

Dan kita yakin saudara-saudara
pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara
Tuhan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! MERDEKA!!!

Kurang lebih begitulah kalimat akhir kobaran semangat Bung Tomo kepada rakyat Indonesia 68 tahun silam, saat penjajah ingin menguasai Indonesia kembali. Ya, Bung Tomo memakai lafal Takbir, Allahu Akbar pada akhir pidatonya seraya menguatkan keyakinan rakyat Indonesia bahwa Tuhan akan menyelamatkan Indonesia dari hasrat kekuasaan dan kesemena-menaan penjajah.

Dan terbukti. Arek-arek Suroboyo yang dibantu dari berbagai daerah di Jawa Timur mampu mengusir tentara berambut pirang dengan bermodal keyakinan dan kesabaran. Tentu, pidato Bung Tomo ikut andil, cawe-cawe, dan tak bisa dinafikan perannya dalam kemenangan peperangan ini. Dengan kalimat Takbir, keimanan rakyat Indonesia membukit, rasa nasionalisme mereka membuncah dan mereka tumpahkan lewat darah menir-menir berkulit putih yang sok berkuasa.

Pemandangan ini serupa dengan apa yang dialami oleh para Sahabat Nabi pada perang Badar. Gendarang perang ditabuh dengan duelnya 3 utusan Kafir Quraisy versus 3 delegasi kaum Muslimin. Dari Kafir Quraisy, majulah Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, dan Walid bin Utbah. Rasulullah pun memanggil Ubaidah bin Al-Haris, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Ali bin Abi Thalib. Dengan tanpa susah payah, ketiga utusan Kafir Quraisy sanggup dipatahkan dan mati di tempat, walaupun Ubaidah mengalami luka yang cukup serius.

Melihat Hamzah dan Ali mengangkat pedang mereka berdua yang bersimbah darah, kaum Muslimin pun bertakbir berkali-kali. Mengakui keagungan Allah yang selalu memihak pada kebenaran. Peperangan pun pecah dan saling serang antar kedua pihak. Kaum Muslimin saling bertautan dan bergemuruh mengucapkan kalimat Takbir seraya mendatangi musuh. Lengkingan bunyi pedang tak menghalangi mulut mereka berkomat-kamit menyeru kebesaran Allah.

Dan lagi-lagi terbukti. Kaum Muslimin yang hanya berjumlah sekitar 314 mampu menumbangkan pasukan yang terhitung di atas seribu prajurit. Kalimat Takbir menjadi sebuah motto dan slogan untuk memenangkan lawan dan musuh Allah yang dengan terang-terangan merobek dan menginjak-injak Islam.

Rabu, 30 Oktober 2013

Allah, Rasulullah, dan Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin (IM) selama ini mengeklaim dirinya sebagai organisasi pembela Islam yang menggembar-gemborkan penerapan syariat Islam. Tentu bila memang benar ini adanya, berarti IM adalah kelompok yang disayang oleh Allah. Karena Allah menguji hamba-hambanya yang paling dicintai-Nya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Tirmizi, Rasulullah SAW. bersabda,“….Sesungguhnya jika Allah mencintai sesuatu kaum maka Allah akan mengujinya. Barang siapa yang rela (akan ujian itu), maka Allah pun akan rido (kepadanya). Namun barang siapa yang memberontak (akan ujian itu), maka Allah pun akan benci (kepadanya).”

Namun agaknya hadis di atas lepas dari ingatan para ‘pengusung’ syariat Islam ini. Mereka mengaku membela agama Allah tapi mereka melupakan datangnya ujian dari Allah. Mereka tetap mengeyel untuk dikembalikannya Morsi pada jabatannya. Mereka emoh akan pemerintahan Mesir saat ini. Mereka terus melaknat, mengecam dan mengutuk orang-orang yang ikut serta dan mendukung dalam keputusan 3 Juli 2013. Pemuda-pemudi IM terus berdemo di universitas-universitas dengan mencorat-coret dinding kampus dengan kata-kata ini dan itu. Menolak kegiatan belajar-mengajar hingga keinginan mereka dikabulkan.

Sebuah hadis Qudsi dengan tegas mengingatkan hamba Allah yang tak mau menerima takdir yang telah ditentukan, “Barang siapa yang enggan menerima ketetapan-Ku dan tak bersabar atas cobaan-Ku, hendaknya ia mencari Tuhan selain-Ku.” (HR: Tabrani) Tak hanya Imam Tabrani, Imam Baihaqi juga memperkuat hadis tersebut dengan makna yang sama dan lafal yang hampir mirip.
Kalau saya boleh menganalogikan hadis tersebut, bisa saja Pemerintah Mesir mengeluarkan ketentuan “Barang siapa yang tidak menerima keputusan Revolusi 30 Juni, silahkan cari kewarganegaraan selain Mesir.” Bisa juga Al-Azhar mengeluarkan keputusan “Barang siapa yang tidak sependapat dengan Al-Azhar, hendaknya ia kuliah di universitas lain.” Tapi sepertinya menyamakan matan hadis Qudsi dengan ketentuan Pemerintah dan keputusan Al-Azhar yang saya angan-angankan itu, rasanya terlalu jahat, geram dan tidak tepat. Tak perlu ‘fatwa’ semacam itu dikeluarkan.

Atau jangan-jangan mereka lupa atau sengaja amnesia akan sejarah Rasulullah. Kalau mereka mengaku membela syariat Islam ‘dengan cara mereka’, Rasulullah pun membela agama Allah ‘dengan cara Allah’ sejak 1400 tahun silam. Dan beliau menerima takdir Allah atas terbunuhnya kurang lebih 70 kaum muslimin di peperangan Uhud. Beliau lantas tidak marah akan peristiwa itu. Beliau tidak kesal pada gunung Uhud dengan mencorat-coret, umpamanya “Khalid bin Walid adalah Pembunuh” atau “Abdullah bin Ubai bin Salul, Seorang Pengkhianat”. Justru proklamasi beliau tentang gunung Uhud diabadikan oleh Imam Bukhari-Muslim dalam kitab Sahih, “Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya.” Dan tak berlebihan bilamana ada salah seorang ulama yang menorehkan tinta emas dalam salah satu bab di kitabnya dengan judul “Gunung Uhud Radliya Allahu anhu”.


Jumat, 18 Oktober 2013

Tren Berpose dengan Syekh

Setelah para ulama Al-Azhar dicerca, dihina, dan direndahkan pasca revolusi 30 Juni lalu, banyak mahasiswa Indonesia di Mesir (baca: Masisir) yang memilih ‘mendekat’ kepada para ulama Al-Azhar. Di antara mereka ada yang mulai mengikuti halaqah-halaqah keilmuan para ulama Al-Azhar, baik di Masjid Al-Azhar atau di tempat lain. Ada juga yang bertandang ke rumah salah seorang syekh untuk bersilaturahmi. Ada pula yang menghadirkan salah seorang syekh untuk mengisi acara seminar di kawasan pemukiman Masisir. Kedekatan dengan para ulama Al-Azhar yang seperti inilah yang sudah selayaknya digadang-gadang guna mendapatkan kucuran ilmu dan percikan keberkahan para ulama Al-Azhar.

Namun, agaknya ada sedikit yang kurang elok dalam proses pendekatan tersebut. Akhir-akhir ini Masisir dirundung tren baru, yaitu berpose bersama syekh lalu diup-load di media jejaring sosial dengan tujuan yang bermacam-macam. Tentunya, pembaca sudah dapat menangkap sendiri apa tujuan mereka yang masih dalam proses pendekatan dengan seorang syekh, memamerkan foto semisal itu. Lain lagi bila seorang murid yang sudah bertahun-tahun berguru pada seorang syekh. Tentu hal ini sangatlah wajar, lantaran perjuangan si murid untuk terus istiqamah mendatangi majelis ilmu sang syekh layak diapresiasi oleh sang syekh.

Sangat aneh, jika seorang murid baru bertemu sekali – dua kali dengan syekhnya. Kemudian 'memaksa' sang syekh untuk berpose bersamanya dengan harapan sebagai bukti kedekatan seorang murid dengan syekh. Hanya bertemu sekali - dua kali lalu mengklaim sebagai orang yang dekat dengan syekh dengan bukti sebuah foto, menurut akal dangkal saya itu hanya sebuah pencitraan dan pembungkus saja.

Oke, memang sebagai pencari ilmu kita wajib mengidolakan para ulama. Tapi perlu diingat, perilaku kita kepada para ulama yang selama ini kita idolakan amatlah berpunggungan dengan perilaku kita kepada para artis yang mungkin juga kita eluh-eluhkan. Ulama bukanlah seorang artis yang senang fotonya disebar kemana-mana hingga menjadikannya makin populer. Ulama adalah pengemban risalah Nabi yang sudah sepatutnya kita muliakan dan kita utamakan sopan-santun di hadapannya. Jika seorang ulama rela untuk difoto, tentu tidak menjadi masalah, tapi kita harus tetap menjunjung tinggi budi pekerti kita sebagai seorang murid kepada gurunya.

Senin, 26 Agustus 2013

Grand Shaikh Al-Azhar; Syekh Ahmad Tayyib

Grand Shaikh Al-Azhar, Syekh Ahmad Tayyib 
Akhir-akhir ini beberapa media yang tak bertanggung jawab atas sumbernya, gencar memberitakan sosok nomer wahid di lembaga Islam tertua dan terbesar se-dunia, Al-Azhar As-Syarif.  Media-media yang sarat akan bau politik itu mencerca, menghina, melecehkan, menistakan, dan menuduh Grand Shaikh Al-Azhar, Al-Imam Al-Akbar Syekh Ahmad Tayyib dengan dakwaan yang tak benar adanya. Dengan rasa cinta dan hormat yang meletup ini, saya ingin menggoreskan sebuah pengetahuan, pengalaman, dan pelajaran dari pribadi guru yang sufi, penuh sayang dan pengertian. 

Syekh yang Sufi dan Zuhud

Syekh Ahmad Tayyib yang saya kenal dan tahu adalah seorang ulama yang sangat zuhud dan mengaplikasikan norma-norma agama melalui ilmu syariat dan tasawuf. Beliau menjadi salah satu pimpinan tarekat tasawuf di tanah kelahirannya di daerah Luxor setelah ayahanda beliau wafat. Sisi kehidupannya yang nyufi ini terbukti dengan beliau menyewa sebuah rumah di kawasan Nashr City dalam jangka waktu yang sangat panjang. Beliau hanya tinggal seorang diri lantaran keluarga beliau berada di Luxor. Setelah beliau ditetapkan menjadi Grand Shaikh Al-Azhar, pemilik rumah yang disewa oleh Syekh Tayyib, menggratiskan rumah itu untuk Syekh sembari berkata kepada beliau, “Ya Syekh, engkau sekarang menjadi Imam Besar Al-Azhar, jangankan hanya rumah sederhana ini, anda pun berhak menunjuk sebuah fila di bilangan Tajammu’ dan saya yakin tak seorang pun yang akan menolak permintaan anda itu.” Syekh Tayyib hanya menganggap pernyataan pemilik rumah itu sebagai lelucon, meskipun si pemilik rumah itu mengutarakannya dengan penuh sungguh-sungguh. Dan Syekh Tayyib pun tetap membayar sewa rumah itu.
           
          Seorang pakar hukum dan pengacara senior, Prof. Dr. Jabir Jad Nasshar dalam tulisannya di sebuah media lokal Mesir, membuktikan bahwa Syekh Tayyib benar-benar orang yang jauh dari kegelimangan harta. Ia pernah dihubungi oleh salah satu konsultan Grand Shaikh Al-Azhar, bahwa Syekh Tayyib enggan menerima gaji sebagai Grand Shaikh Al-Azhar, yang saat itu gaji sebagai Grand Shaikh Al-Azhar mencapai kelipatan puluhan ribu pound Mesir. Setelah hal ini dilaporkan dan dibahas dengan pemerintah, pemerintah pun mengamini bahwa Grand Shaikh Al-Azhar berhak menentukan sendiri berapa gaji yang diterima. Setelah mengetahui isi perbincangan dengan pemerintah itu, sontak Syekh Tayyib berkata, “Apakah kalian ingin memotong tanganku?(beliau menganggap menentukan gaji sendiri sama halnya mencuri uang Al-Azhar dan umat Islam). Saya tidak akan menuntut gaji dari Al-Azhar. Dan saya tidak akan menentukan gaji saya dari kas Al-Azhar dan kementerian agama. Memang mustahil saya bekerja tanpa bayaran, tapi saya tidak akan menuntut satu keping mata uang pun dari kas Al-Azhar.”

       Pada bulan April lalu, Grand Shaikh Al-Azhar, Syekh Ahmad Tayyib menerima penghargaan dan hadiah sebesar 1 juta dirham Emirat (2,5 miliar rupiah) dari Emirat Arab. Hadiah tersebut sebagai penghargaan kepada beliau yang selama ini memimpin Al-Azhar yang moderat, santun, dan rahmatan lil alamin dalam mengemban misi Islam. Hadiah uang yang bisa untuk membangun rumah gedongan itu, langsung dihibahkan oleh Syekh Tayyib ke bendahara Al-Azhar dan langsung masuk ke kas Al-Azhar.

Senin, 19 Agustus 2013

Bolehkah Dai/Ustaz Mematok Tarif?

Kala Uje wafat, saya langsung menulis sebuah opini berjudul “Menilai Dai/Ustaz layar Kaca” (baca: http://masyaqien.blogspot.com/2013/08/menilai-ustazdai-layar-kaca.html). Dalam tulisan itu saya mengupas tentang kepribadian para dai dan ustaz televisi, apakah kepribadian mereka sesuai dengan apa yang selama ini mereka dengungkan melalui firman Allah dan hadis Nabi atau tidak? Saya lebih memilih berbaik sangka dalam hal ini, toh kita sebagai manusia biasa hanya sanggup menilai seseorang secara kasat mata.

Saat ini, media sosial semacam Facebook dan Twitter sedang ramai membincang tentang “Ustaz Bertarif”, sepertinya hati saya terketuk untuk menulis sebuah wacana yang mungkin manfaatnya bisa menyeluruh.

Berdakwah merupakan sebuah kewajiban bagi siapa saja yang mampu. Tentu tidak serta-merta semua orang bisa mengeklaim dirinya sebagai dai atau ustaz. Seorang dai/ustaz harus teruji secara keilmuan, keimanan, budi pekerti dan keikhlasan. Mungkin, di antara beberapa poin yang harus dilampaui oleh seorang dai/ustaz tersebut ada satu poin yang sulit untuk diteropong lebih jauh, yaitu keikhlasan.

Kita bisa mengetahui strata kelimuan seorang dai/ustaz dengan mendengar dan memperhatikan apa yang disampaikan. Adapun keimanan, kita bisa mengukurnya melalui akhlak seorang dai/ustaz tersebut, sebab Imam Ibnul Qoyyim berkata, “Agama adalah budi pekerti. Barang siapa yang lebih baik budi pekertinya darimu, berarti ia lebih beriman darimu.” Dan sudah barang tentu, budi pekerti sangat mudah kita ketahui dengan mata telanjang, apakah seorang dai/ustaz berakhlak sesuai ajaran agama atau justru malah melenceng dari tuntunan yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Seperti berkata baik, sopan, dan tidak mencemooh orang lain, apalagi menghardik dengan kata-kata yang dinisbatkan kepada agama seperti kafir, musyrik, dan murtad tanpa ada alasan yang disahkan oleh agama.

Namun bila kita menyinggung soal keikhlasan, agaknya amat jarang manusia di jagat raya ini yang tahu, mana orang yang benar-benar ikhlas dan mana orang yang tak pernah ikhlas? Sebab ikhlas bertempat di hati dan hati hanya otoritas pemilik dan penciptanya. Kita tak akan tahu seseorang itu ikhlas atau tidak kecuali orang itu sendiri dan Tuhan yang Maha Mengetahui.