Tampilkan postingan dengan label Cerita Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pribadi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2015

Aku; Penyebab Sakitnya Bapak

Mungkin sudah genap 4 tahun, atau bahkan lebih sedikit, Bapak berperang sekuat tenaga, mengumpulkan kekuatan lahir dan batin melawan penyakitnya. Empat tahun waktu yang cukup lama untuk menahan penyakit Stroke dan Gagal Ginjal. Selama itu pula Bapak akrab dengan rumah sakit, alat suntik, obat-obat, dan segala yang berhubungan dengan kebaikan kondisi Bapak. Seminggu dua kali bolak-balik rumah sakit untuk cuci darah karena Ginjalnya sudah disfungsi. Kadang juga tiga sampai empat kali ke rumah sakit bila ada anggota badan atau kondisi tubuh Bapak yang terganggu.

Memang banyak faktor yang menyebabkan penyakit mendera Bapak bertubi-tubi. Saya tidak ingin membicarakan bahwa ini sudah suratan takdir lantaran penyakit Bapak memang dari Allah dan sudah waktunya Bapak terima. Banyak dari saudara dan tetangga yang bilang, kalau salah satu faktor awal mula Bapak terserang Stroke karena banyak pikiran. Dan pikiran itu tertuju pada anaknya yang saat itu jauh dari rumah, yaitu saya.

Senin, 17 November 2014

Sang Mantan

Sebagai lelaki biasa dan normal, tentunya, saya pernah mengalami bagaimana rasanya jatuh hati. Eh, jatuh cinta. Halah, entahlah mana yang benar dari dua frase kata itu. Tapi saya benar-benar merasakan arti sebuah cinta setelah saya menginjak masa-masa SMA. Sungguh benar lagu yang mendendangkan lirik: Tiada masa paling indah … masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah … kisah-kasih di sekolah.

Semenjak SMA, saya baru tahu bagaimana seharusnya mencintai seorang perempuan. Kala itu pula, saya mencoba merasakan dan berpikir bagaimana cara terbaik memperlakukan perempuan sebaik mungkin. Saya juga harus berlaku bijak, karena posisi saya saat itu sangat sulit untuk bisa mencintai seorang perempuan lantaran saya dan dia berada di pesantren yang sama dan hanya bisa bertemu di sekolah.

Mulanya saya tak sampai hati dan tak menyangka bisa meliriknya. Ya, kisah kami berawal dari salah seorang teman saya yang menyukainya dan menjadikan saya sebagai “Pak Pos” yang menyampaikan “salam” kepadanya. Lama-lama dia justru bertanya kepada saya, “Kenapa salamnya tidak dari situ aja?”

Selasa, 21 Oktober 2014

Arjuna

Selepas salat maghrib tadi, Alhamdulilah saya diberi kesempatan menghadiri pengajian Fikih Aswaja yang diampu oleh KH. Abdurrahman Nafis di masjid Kemayoran – Surabaya. Malam ini beliau mengupas bab tentang Wali Songo atau Sembilan wali yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Begitu lugas dan bayannya beliau menjelaskan sejarah Wali Songo dan cara berdakwah yang mampu merangkul masyarakat tanah Jawa kala itu.

Pembahasan pun bergulir hingga pada Mbah Sunan Kalijaga. Mbah Sunan Kalijaga terkenal dengan perwayangannya. Beliau amat piawai menjadi dalang. Penduduk Jawa –khususnya Jawa Tengah- sangat menggandrungi pertunjukkan wayang dan menonton setiap kali ada pagelaran wayang. Di sinilah Mbah Sunan Kalijaga sangat brilian dalam menyusupkan sedikit-demi sedikit tentang Islam, di antaranya; Menonton wayang yang digelar Mbah Sunan Kalijaga gratis tidak dipungut biaya, hanya mengucapkan Kalimat Sodo atau kalimat syahadat yang berisi pengesaan Tuhan dan pengakuan akan kenabian Baginda Muhammad. Kalimat Sodo itu diucapkan sesaat sebelum memasuki pintu masuk yang dinamakan oleh Mbah Sunan Kalijaga dengan sebutan Gapuro. Gapuro sendiri dari kata bahasa Arab Ghafuran yang berarti Sang Maha Pengampun. Hal ini dimaksudkan bahwa siapa saja yang menyerukan Kalimat Sodo, maka ia akan menuju ke Gapuro dan dosa-dosanya akan diampuni.

Sabtu, 20 September 2014

Belajar Legowo dari Syekh Yusri

Lebih dari 12 tahun beliau mengajar kitab pertama yang dirokemendasikan ulama sejagat raya untuk dikaji setelah kitab suci, Al-Quran. Dengan istiqamah dan khusyuknya beliau membaca, menelaah, mengkaji, dan menjelaskan isi kandungan hadis-hadis Nabi yang tertera di kitab Sahih buah karya Imam Muhammad bin Ismail bin Mughirah Al-Bukhari di Masjid Al-Azhar. Amat jarang beliau berhalangan, bahkan bila ada acara yang bertepatan di hari beliau mengajar, beliau menyempatkan hadir mengisi pelajaran barang 20 hingga 30 menit. Beliau berpegang teguh pada hadis Nabi yang didokumentasikan Imam Bukhari dan Muslim, “Amalan yang berterusan lebih dicintai oleh Allah meskipun sedikit.”

Tepatnya 4 tahun yang lalu saat masih terasa hangat suasana Kairo, salah seorang teman mengajak saya mengaji kitab Sahih Bukhari yang diampu langsung oleh Syekh Yusri Rusydi Jabr Al-Hasani. Sepintas dan pertama kali melihat wajah beliau, ada cahaya meneduhkan dan memancar. Saya mengimani itulah asar dari penghambaan beliau kepada Tuhan. Awal-awal mengaji, rasa kantuk menghujam saya bertubi-tubi. Saya pun terpelanting dan terbang ke alam mimpi, begitu bangun azan Zuhur berkumandang dan pengajian segera diakhiri. Belum memiliki kitab dan masih terasa asing dengan bahasa Araba Amiiyah, jawaban saya ketika diwawancarai teman-teman perihal dengkuran saya.

Sabtu, 06 September 2014

Tirakat Seorang Ibu

Semenjak di pesantren dan diajari tata krama -khususnya kepada orang tua-, saya sangat mengimani kekuatan doa seorang ibu. Ketika Ibu mengatakan IYA, saya sebisa mungkin mengikuti keiyaan Ibu saya kecuali satu, kuliah di Al-Azhar Kairo-Mesir. Sewaktu saya menyodorkan lembaran persyaratan tes dan kuliah di Al-Azhar Kairo, Ibu langsung menolak dengan alasan tak punya biaya -karena saya saat itu ikut tes jalur non beasiswa-.

Saya berusaha menampik kekhawatiran Ibu dan Bapak kala itu. Saya tegaskan bahwa Sang Maha Kaya bukanlah Ibu dan Bapak tapi Allah. Saya minta rido keduanya untuk ikut tes dan minta didoakan dan ditirakati. Setelah tes dan jika saya dinyatakankan lulus, saya berjanji akan mencari uang sendiri yang kala itu sekitar Rp. 18.000.000. yang harus dilunasi.

Minggu, 24 Agustus 2014

Syekh Ala' Musthafa Naimah

Saat mendengar nama dan melihat foto beliau, ingin rasanya bisa bertemu dg beliau. Banyak dari kawan-kawan yang ikut tour ziarah ulama Al-Azhar di Alexandria berkisah tentang ketawaduan beliau, Syekh Ala' Musthafa Naimah. Dan saya cemburu dengan teman-teman saya yang beberapa kali berfoto dengan beliau.

Dan alhamdulillah malam ini saya bisa menatap wajah beliau yang teduh dan mengaji kitab "As-Siraj Al-Munir" kepada beliau tentang kedudukan Nabi Muhammad dengan suasana yang amat syahdu.

Penjelasan Syekh Ala' menyisiri sekitar halaman 80 tepat pada kedudukan Nabi Muhammad sebagai manusia pertama yang mengakui Allah sebagai Tuhan dan menghamba kepada-Nya.

Rabu, 25 Juni 2014

Kucing Beranak Singa

Beberapa minggu ini banyak dari kita yang tersentak dengan berita anak seorang tukang becak yang lulus dan menjadi wisudawan terbaik dengan nilai IPK 3,96. Ia pun diundang bertemu Presiden SBY dan dijanjikan beasiswa studi di Inggris. Sesuatu yang sangat fantastis dan luar biasa. Namun menurut saya bukan dia yang hebat tapi orang tuanyalah yang super.
Orang tua haruslah demikian, bisa menjadi motivasi seorang anak dan terus memacu semangat anak dalam keadaan apapun. Selalu meyakinkan anaknya bahwa meskipun ia anak seorang tukang becak/tukang bakso/orang biasa-biasa saja tapi harus bercita-cita tinggi dan mampu meraihnya.

Jujur, usai membaca berita itu saya teringat bapak saya. Bapak saya tak pernah mengenyam bangku sekolah sama sekali dan tak juga pendidikan pesantren. Semenjak saya kecil beliau selalu mengatakan kepada saya, "Anak bapak harus bisa sekolah di sekolah yang terbaik, harus bisa ngaji/nyantri, dan kalau bisa kuliah di luar negeri." Dan alhamdulillah, dua minggu lalu saya merampungkan ujian semester akhir saya untuk strata S1 di Universitas Al-Azhar.

Minggu, 20 April 2014

Menuhankan Diri

Tadi pagi saya berencana pergi ke kantor konsuler KBRI untuk membuat paspor baru. Tapi rencana saya batal dan saya harus pulang ke asrama sembari gigit jari gara-gara menyetak dan ngeprint foto yang selama satu jam dan tak kunjung selesai. Padahal hanya beberapa lembar saja.

Saya benar-benar kecewa dan dibuat uring-uringan tukang foto itu. Saya sempat berpikir, bagaimana Mesir mau maju? Lha orangnya saja bekerja sebagai pencetak foto butuh waktu lebih dari sejam untuk merampungkan pekerjaannya. Saya terpaksa pulang dengan menekuk wajah. Untuk menghilangkan kerisauan, saya putar video-video lucu sesampai di asrama.

***

Selasa, 08 April 2014

Keahlian, kok Ahli Kubur?

Saya termasuk mahasiswa Al-Azhar yang beruntung lantaran bisa tinggal di asrama plus rutin di’gaji’ setiap bulan. Kamar saya di gedung belakang masjid, lantai enam dan berpapasan langsung dengan pengeras suara masjid. Sekamar kami bertiga. Saya, dan dua teman saya lagi yang kebetulan sama dari Jawa Timur. Teman saya yang pertama, Dana namanya. Dana orang yang ‘serba-serbi’. Ia juga sudah melihat Ka’bah dan bertitel ‘Haji made in Saudi’, karena ada loh, haji yang bukan buatan Saudi. Dana juga seorang hafiz Al-Quran dan ahli qiraat.

Satu lagi teman saya bernama Hanif. Mahasiswa asli lamongan. Dia pernah menjadi direktur sebuah lembaga keilmuan di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir. Ahli dalam ilmu Nahwu dan Saraf, serta ilmu Mawaris yang mengupas tentang warisan. Dan saya sendiri abu-abu, masih bingung dan terus meraba-raba sejatinya saya ini ahli di bidang apa?

Minggu, 19 Januari 2014

Pulang

Pulang. Aku tak akan membahas lagu Nidji yang berjudul Pulang, atau lagu Andien yang bertajuk sama. Atau novel Pulang karya Leila S. Chudlori yang mengisahkan seorang jurnalis yang dituduh sebagai kroni Partai Komunis Indonesia (PKI), yang mana saat terjadi pembersihan anggota PKI, ia berada di Yugoslavia menghadiri sebuah kongres atau seminar jurnalis dunia, lalu terpaksa ‘lari’ ke Peking, Cina. Dan akhirnya menikmati ‘setengah hidupnya’ di Paris. Menikah dengan gadis Perancis, mempunyai anak perempuan yang luar biasa hingga mati dan kembali pulang ‘dalam pelukan’ Tanah Air. Aih, maaf kata-kataku terlalu lebar menceritakan tentang novel Leila S, Chudlori. Kuulangi sekali lagi, aku tak akan membahas itu semua. Titik.

Saat kata “pulang” terdengar, tentu saja ingatanku akan rumah, keluarga, orang tua, teman, tetangga, dan kampung halaman terekam jelas. Seolah otakku memutar kembali sebuah kaset usang berdebu yang sudah tergeletak di pojok gudang selama belasan tahun.

Jumat, 13 Desember 2013

Bapak

Bapak. Ya sudah hampir empat tahun aku tak melihat wajahnya. Bahkan sekedar foto beliau saja, aku sengaja tak menyelipkannya  di tas atau koper saat hendak terbang ke Kairo. Jujur, aku termasuk orang yang paling cengeng lantaran ingat orang tua. Sebab itulah, aku enggan mengantongi foto bapak atau ibuku. Malah di telepon genggamku yang bisa untuk memotret dulu, hanya ada foto adik, mbakyu yang sedang menggendong anak pertamanya, dan mas ipar.

Sampai di Kairo, ibuku menangis tak menyangka anak keduanya yang kala duduk di sekolah dasar dibaiat teman-temannya menjadi juru palak atau pemeras, kini hijrah jauh mencari ilmu tanpa uang belanjanya terkuras meski hanya seratus rupiah. Setiap telepon, ibu selalu berpesan jaga kesehatan, bertanya kapan pulang? Padahal waktu itu baru satu bulan kulihat rumah-rumah kotak bak kardus bila dipandang dari udara.

Oh iya, hampir saja aku lupa. Saat berpamitan di bandara Juanda-Surabaya. Hanya ibu yang mengantar sampai pintu terakhir. Entah di mana bapak sibuk menyembunyikan kekesalannya lantaran biaya administrasi hingga berangkat tak sanggup ditanggungnya. Terakhir kutatap bapak, wajahnya menyiratkan kecemasan akan anak putra pertamanya.

Sampai sekarang aku tak bisa menatap wajah kedua orang tuaku secara langsung. Ah, jangankan video call, meski kami orang kota dan pernah kaya, bapak-ibu hanya bisa kirim pesan melalui SMS. Itu pun harus ada mbakyuku.

Enam bulan di Mesir, aku mendapatkan kabar bapak sakit-sakitan. Penyakit Stroke melumpuhkannya. Tak bisa jalan. Hanya bisa berbaring. Kondisi bapak yang seperti ini sudah dirahasiakan berbulan-bulan. Keluarga tak ingin keadaan bapak merecohkan ujian pertamaku di Al-Azhar.

Keluarga mengeluh biaya perawatan dan obat bapak. Akhirnya aku putuskan jualan tempe dan kerja di warung. Sempat juga aku menjadi pegawai cleaning service di KBRI. Semua itu kulakukan hanya untuk membantu ibu membeli obat bapak. Aku sangat bersyukur lantaran Tuhan juga mengirim manusia-manusia yang berhati malaikat membantu perekonomian keluarga kami. Ada yang menyodorkan uang. Ada yang mengirimkan beras satu karung. Dan berbagai macam cara yang lain.

Lebih dari setahun bapak berada dalam kondisi yang sulit. Bolak-balik ke rumah sakit. Kadang juga harus menginap di rumah sakit untuk perawatan yang lebih konkrit. Saat kondisi bapak yang sakit-sakitan seperti ini, aku teringat kata-kata yang selalu diulang-ulang bapak saat masa kecilku dulu,

“Bapak ingin meninggal saat umur 60an seperti Nabi. Bapak tidak ingin sakit-sakitan saat tua agar tidak merepoti keluarga nantinya.”

Tapi keinginan bapak rupanya ditolak oleh Tuhan. Tuhan mengerti segala yang terbaik untuk hamba-Nya. Bapak dipaksa untuk memerangi penyakit-penyakitnya hingga saat ini.

Setiap telepon ke Indonesia, mata bapak selalu mendung dan pipinya banjir air mata kerinduan. Tak pernah bapak berbicara panjang. Hanya bertanya kabar, kapan pulang. Itu pertanyaan tetap bapak. Kadang sesekali bapak menanyakan siapa wanita pilihanku yang nantinya menjadi menantunya. Setelah bertanya itu, suara bapak raib. Hilang. Tak lagi terdengar. Telepon pindah ke tangan ibu atau mbakyuku. Bahkan, sering kali bapak menolak bercakap denganku. Tak kuasa membendung rasa haru katanya.

Selasa, 08 Oktober 2013

Tersanjung dan Terpasung Kedudukan

Hampir tiga minggu saya absen menulis, banyak alasan yang saya buat-buat untuk tidak menggerak-gerakkan jemari saya. Alasan yang paling bisa saya pertanggung-jawabkan adalah karena dalam tiga minggu terakhir ini saya jarang membaca. Membaca yang saya maksud adalah membaca kondisi sosial masa kini untuk bisa dijadikan topik tulisan. Atau membaca tulisan-tulisan sastra, esai berbahasa Indonesia agar gaya bahasa saya tidak njelimet dan bisa dinikmati oleh para pembaca.

Saya malu menulis bila hanya mengandalkan kemauan tapi tema dan gaya bahasa yang diusung tidak bisa memuaskan para pembaca. Jelas, jika para pembaca merasa jijik dan tak mendapatkan manfaat dari apa yang saya tulis, alangkah berdosanya saya lantaran telah menyia-nyiakan waktu mereka hanya untuk memelototi ‘sampah’ atau ‘kotoran’ saya.

Mungkin para pembaca juga akan muak dengan tulisan yang akan saya tulis ini. Maka dari itu, saya peringatkan bagi para pembaca yang waktu dan tenaganya tak ingin terbuang begitu saja, silahkan tutup komputer, laptop, dan HP anda. Atau tutup tab blog saya ini, lalu beralih ke situs yang lebih bermanfaat.

Saya juga masih bingung hendak menulis apa yang sekiranya bermanfaat bagi para pembaca. Tapi biarlah jemari saya menari-nari sesuka dan seirama dengan hati saya yang sedang kedinginan. Mungkin anda terasa agak pening, apakah ada hati yang kedinginan? Bagi saya ada-ada saja bila kita mengada-ada.

Kamis, 01 Agustus 2013

Aku dan Cina

Menggendong Basmalah
Jika kita berbicara tentang negara yang barang produksinya melalang ke berbagai belahan dunia, mungkin Cina lah yang tepat untuk kita perbincangkan. Mulai dari motor, telepon genggam, mesin cuci, hingga sandal jepit pun sering kita temui tulisan Made in China.

Apalagi Mesir, seluruh pernak-pernik cendera mata seperti patung mini Piramida dan Spink juga buatan Cina. Hampir segala barang yang berbau elektronik di sini impor dari Cina. Lebih dari 70% penduduk Mesir lebih memilih handphone merek Cina. Jadi, tak ayal jika sering kita dengar bualan-bualan pedagang di pasar, “Kullu Hagah min Shiin”. Segala sesuatu dibuat oleh Cina. Dan mungkin bila Piramida sanggup kita angkat, kita akan temui dibawahnya Made in China.

Ketika berpikir, mengapa begitu banyak produk Cina yang berkeliaran di negeri Musa ini, setidaknya ada beberapa spekulasi yang muncul di pikiranku. Pertama, karena etos kerja orang Mesir yang tergolong malas dan acuh dengan pekerjaan. Lihat saja, pukul 08.00 pagi mereka masuk kantor. Lalu sarapan sampai pukul 09.00. Tak hanya itu, mukadimah bekerja mereka juga minum teh hangat sembari ngobrol dulu satu jam hingga jarum jam menunjukkan angka sepuluh. Baru mereka duduk di kursi yang paling mereka benci selama hidupnya. Dalam bekerja pun, mereka mengikutsertakan mulut mereka yang penuh dengan busa obrolan yang tidak jelas. Meracau dengan seenaknya. Hingga tak jarang, mahasiswa-mahasiswa asing yang sedang mengurus administrasi dicampakkan hanya lantaran orang Mesir lebih suka menggerakkan bibir mereka dibanding jari, tangan, kaki dan otak mereka. Belum lagi saat mendengar azan zuhur, mereka akan mandek kerja dengan alasan salat lalu enggan meneruskan pekerjaan mereka dan bilang dengan penuh adidaya, “Silakan datang lagi besok!”. Sekurangnya hanya dua jam mereka menjalankan kewajiban sebagai suami dan ayah di medan jihad. Bagaimana bisa memproduksi barang tertentu, coba?

Air Mata Rindu

Assalamualaikum. War. Wab

Dengan datangnya surat ini, teriring uraian doa suci teruntuk Abah-Ummi dan keluarga semoga selalu diberi kebeningan iman, keteguhan taqwa, dan kesehatan lahir-batin hingga mampu mengabdi kepada Allah dengan membesarkan keturunan yang saleh dan salehah yang nantinya menjadi amal jariyah bagi abah-ummi.

Alhamdulillah, hampir dua tahun Yaqin meninggalkan abah-ummi sekeluarga dengan jaminan Allah yang menjaga abah-ummi sekeluarga baik di waktu pagi dan petang. Saya di sini sehat wal afiat dan insyaAllah selalu dicukupi oleh Allah karena orang yang mengembara demi sebuah ilmu, Allah lah yang memenuhi segala kebutuhannya.

Mesir, tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya. Tidak seutuhnya seperti di film KCB. Sama halnya dengan Indonesia, kriminal kejahatan, mulai dari pencopetan, pencurian, hingga perampokan juga marak disini. Berapa banyak Mahasiswa Indonesia yang menjadi korban atas kebiadapan mereka yang kosong akan cahaya Tuhan. Saya mohon doa dari panjenengan semua agar selalu aman dan dijaga oleh Allah. Namun lebih dari itu, ilmu dan Ulama di sini sangat luar biasa. Syukur kiranya bisa menginjakkan kaki dan duduk di majelis para Ulama Al-Azhar.

Abah-Ummi, seorang mahasiswa bukanlah sama dengan anak SD, SMP, atau SMA. Tentunya jenjang pendidikanlah yang membedakan. Dengan perbedaan itu, beda pula  lah kebutuhan dan biaya hidup sehari-hari. Bisa kita bayangkan berapa juta perbulan mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di Indonesia?. Saya sangat bersyukur bisa kuliah tanpa sepesen pun uang dari abah-ummi. Mulai dari berangkat ke Mesir hingga sampai Mesir. Di sini beasiswa yang saya dapat cukup untuk kebutuhan sehari-hari, mulai beli beras, sabun, ongkos kendaraan dan sedikit menabung untuk membeli kitab karena mahasiswa tanpa kitab seperti langit tanpa matahari mendung dan tak cerah. Namun, dengan kerja sampingan di warung dan membuat tempe, saya selalu berusaha menabung dan jika sampai nominal yang diharapkan langsung saya kirimkan ke Indonesia Insya Allah guna bisa membantu membeli Obat buat abah atau membayar SPP Adek, Amiril Wachid. Semua itu saya lakukan ikhlas tak ada rasa kecewa atau pun sedih karena dulu saya selalu merepotkan abah-ummi. Membuat abah-ummi bingung dengan kenakalan dan uang jajan yang selalu saya minta dengan paksa.

Mahasiswa yang bekerja tentunya beda dengan mahasiswa yang selalu berkutat dengan kitab, sibuk dengan kajian. Jadi, jangan disamakan saya dengan mahasiswa lain. Tentunya Abah-ummi sekeluarga tahu Khoirul Azzam di film KCB, betapa dia susah payah bisa lulus hingga 9 tahun di Kairo. Usaha dan harapan saya,  bisa lulus dengan waktu yang sesingkat-singkatnya dan memperoleh ilmu yang manfaat dan berkah yang menjadikan pemiliknya rendah hati. Dengan mengabdi kepada orang tua, saya memohon kepada Allah agar melebur dosa-dosa saya dan menjadikan saya orang yang baik dan mendapat ilmu yang manfaat dan berkah.

Abah-Ummi, hidup tak mesti seperti yang kita angankan. Begini lah hidup, inilah garis yang telah digoreskan oleh Tuhan untuk kita. Dengan seperti ini saya khususnya bisa menjadi lebih dewasa, mandiri dalam menjalani hidup. Ikhtiyar, Ikhlas, Sabar, Syukur, dan Tawakkal itulah pintu keluar dari semua permasalahan yang kita hadapi di kehidupan ini.

Saya sangat berterima kasih kepada panjenengan yang telah merawat, mendidik saya hinga tumbuh dewasa ini. Tanpa Abah-Ummi apalah arti seorang Achmad Ainul Yaqin? Abah-Ummi sekeluarga juga jangan terlalu berlebihan dalam membanggakan anak atau menginginkan anak-anaknya menjadi ini dan itu. Perbanyaklah doa semoga kami anak-anak abah-ummi menjadi anak yang sholeh-sholehah, orang yang bisa mengharumkan nama orang tua hingga mengantarkannya ke surga tempat yang kekal, menjadi orang yang sukses berguna bagi Agama, bangsa dan masyarakat.

Abah-Ummi, putra-putri panjenengan sudah besar sampai abah-ummi menjadi kakek-nenek sekarang. Harapan dari anak panjengan ini, semoga Abah-Ummi istiqomah dalam mencari bekal di kehidupan yang mendatang, ajek/lurus dalam ibadah, tak enggan mencai ilmu, dan tak berhenti sedetik pun mendoakan anak dan cucu panjenengan.

Saya bangga dan sangat bersyukur menjadi anak Abah-Ummi. Dengan segala kesabaran abah-ummi,  saya bisa seperti ini, menghirup udara di tanah para Nabi, mengenyam bangku pendidikan secara normal padahal semua itu belum pernah dirasakan oleh abah-ummi. Semoga itu semua menjadi Amal jariyah bagi panjenengan hingga menjadi saksi di hari perhitungan yang tak ada penolong pun kecuali amal baik. Amin Ya Robbal Alamin.

Sekian dulu surat dari saya, semoga mampu menjadi penawar kangen abah-ummi sekeluarga.

Wassalam.

Kairo 7 Februari 2012


Salam rindu tiada tara dari anakmu
Achmad Ainul Yaqin


Jumat, 26 Juli 2013

Air... Air... Air... Mana Air?

Sore musim panas jauh lebih hangat ketimbang siang musim dingin. Kipasan angin tak bisa menghilangkan kegerahan tubuh yang selalu meminta untuk diguyur. Tenggorokan yang kian meringkai selalu teriak-teriak  memanggil es batu dalam kulkas. Ya, inilah musim panas di negeri lain. Tak akan pernah kurasakan jika kelak kembali ke pelukan Ibu Pertiwi.

Semenjak bulan lalu, aku meninggalkan asrama. Bukan karena ingin keluar atau dikeluarkan. Aku hanya ingin merasakan hidup di luar asrama. Di flat yang dihuni beberapa mahasiswa. Terlebih salah seorang temanku sedang berlibur, pulang kampung. Aku sebagai sahabat karibnya dengan segala kedermawananku, menawarkan kepadanya untuk menggantikan uang rumah bulanan dan sekaligus menetap di kamarnya selama ia liburan. Ia setuju. Tapi aku mengajukan syarat kepadanya. Syaratnya nanti jika ia sudah kembali ke Kairo, ia akan mengganti uangku. Hehehe

Sudah empat hari ini, rumah yang aku huni saat ini mengering. Rumah ini berada di lantai 5. Setiap lantai ada lima rumah. Jadi total seluruh rumah yang bertengger di gedung ini ada dua puluh lima. Sialnya, dua puluh lima rumah tak disertai dengan tabung air di atas gedung. Air bisa mengalir mengisi kran rumah-rumah hanya dengan bantuan mesin Sanyo. Naasnya, mesin Sanyo yang sudah menjadi nyawa kami beberapa hari ini hanya bisa batuk dan berdehem.

Sudah barang tentu, kami yang berada di lantai 5 menjadi korban permanen lantaran air yang didorong mesin Sanyo gelegapan hanya berputar di lantai 1 dan 2. Jangankan mandi, untuk kencing dan berwudu saja kami kebingungan. Hampir tiap hari kami mengungsi mandi di rumah teman. Kadang kami harus sembunyi-sembunyi mandi di kamar mandi masjid sebelah rumah, takut kena omelan maut bapak tua yang bersuara parau.

Sore ini tak jauh berbeda dengan sore-sore kerontang hari kemarin. Di kamar yang berukuran sedang ini, aku hanya dihibur dengan kipas angin, novel, dan nyanyian “Mimpi” yang dikicaukan oleh Anggun. Saat melepaskan mata dari rangkaian huruf dan kata Leila S. Chudori, aku mencoba melayangkan pandanganku ke sudut kamar dekat jendela. Ah, sungguh tak tahu diri makhluk itu. Lalat itu, ya sepasang lalat itu entah sengaja atau tidak, ia melemparkan lara pada diriku. Bagaimana tidak, dengan tanpa dosa sepasang lalat itu bergumul, saling tindih dan kecup. Sepasang lalat itu tiada malu bercumbu, saling gigit, hingga terbang bersama dengan keadaan masih saling tertancap satu sama lain.

“Dasar makhluk tak punya akal dan perasaan.” hardikku. Tidakkah ia sedikit berempati dan berbelas kasih pada kami yang masih lajang? Tidakkah ia mengerti bila manusia selepas berhubungan badan wajib mandi? Tidakkah ia tahu kami sedang jejaka dan sedang menanti bugarnya mesin Sanyo gedung rumah kami? Ah, biarlah! Toh hewan tercipta tanpa rasa, logika dan cinta.

Hush! Kenapa jemariku mengikutsertakan cinta? Ah, itu tak penting. Yang terpenting saat ini hanyalah aliran air yang menggelegar seperti minggu-minggu lalu. Hingga kami serumah tak ada yang mengungsi. Tak ada yang pening saat air seni memaksa keluar mencari tempat lain. Tak ada yang pusing kala butiran beras sudah saatnya menjadi gumpalan nasi dan siap dilahap. Tak ada yang resah saat perut tak henti-hentinya mempermainkan pemiliknya, menggoda, dan menuntut agar bekas makanan dilenyapkan melalui lubang pencetak kotoran.

Apa aku dan seisi rumah ikut saja berdemo dengan jutaan warga Mesir memprotes Presiden Morsi. Kalau warga Mesir menuntut Morsi lengser dari jabatannya, kami hanya menuntut dia mengganti mesin Sanyo kami dan membelikan kami tabung air yang besar sebagai tampungan. Tapi apa hubungannya Morsi dengan air rumah? Bukankah aksi protes harusnya ditujukan kepada tuan rumah? Ah, biar saja! Sudah dua bulan menetap, tuan rumah belum juga terlihat batang hidungnya. Atau, jangan-jangan tuan rumah kami memang Presiden Morsi?

Tanpa air, hidup terasa susah. Sebab semua yang hidup tercipta dari air. Memang Sang Maha Benar   selalu benar dalam tuturnya, “Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya’:30)

Terasa hidup di gurun pasir. Air... Air... Air... Mana air?


Kairo/1/7/13

Selasa, 16 April 2013

Rinduku pada Taufik Ismail

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana

Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Itu adalah sebagian bait puisi yang berjudul “Beri Daku Sumba” karya Taufiq Ismail. Tepatnya lima atau enam tahun yang lalu aku membacakan puisi itu. Kala itu, Universitas Islam Malang menggelar lomba Teaterikalisasi Puisi se-Jawa Timur. Dan setelah dilakukan seleksi oleh pelatih teater sekolahku, akhirnya aku dipaksa menjadi pembaca puisi di perlombaan itu. Jujur, saat itu aku memang tak ada kemampuan membaca puisi. Namun berkat arahan dari pelatih, aku pun menjadi percaya diri. Oiya, karena teaterikalisasi puisi, tak hanya aku yang maju ke panggung namun juga ada beberapa temanku yang ikut serta mempercantik penampilan. Satu lagi, aku tak sendirian membaca puisi itu, ada seorang bidadari cantik yang berduet denganku dulu. Ya, dia mantan calon istriku. Ingat, dia mantan calon istriku.

Dengan keterbatasan kami, kami pun memberanikan diri untuk tampil. Dan, Alhamdulillah kami diberi kesempatan mengangkat tropi juara I lomba teaterikalisasi puisi se-Jawa Timur. Sebenarnya bukan hanya satu puisi yang kami bawakan, ada satu lagi judulnya “Jembatan” ciptaan Sutardji Chalzoum. Temanku bernama Erik yang membacanya dengan penuh kobaran semangat.

Mulai itulah aku cinta dengan bait-bait syair, menikmati keindahan kata-kata, menelusuri sajak-sajak yang penuh makna. Aku sangat memuji Chairul Anwar dengan puisinya “Aku”, W.S Rendra dengan “Orang-orang Miskin”, Gus Mus dengan “Wanita Cantik Sekali di Multazam”, D. Zawawi Imran dengan “Ibu”, dan penyair-penyair yang lain. Tentu saja, aku juga sangat senang dengan Taufik ismail, pencipta puisi yang aku bacakan saat lomba itu.

Taufik Ismail telah mencipta ratusan bahkan mungkin ribuan judul puisi dengan beragam macam pesan yang disampaikan. Mulai dari sisi agama, politik, sosial, budaya, kenegaraan, pertemanan, dll. Aku pun tak bisa pungkiri, bahwa aku lambat laun menjauhi rokok usai membaca puisinya berjudul “Tuhan Sembilan Senti”.

Rasa cinta, kagum, hormat dan entahlah apalagi yang tak bisa diungkapkan, rasanya amat menggelora di kalbu. Hingga akhirnya, Tuhan mempertemukan kami. Beliau bertandang ke negeri Piramida untuk menghadiri sebuah acara penghargaan lantaran puisi-puisi beliau yang telah diterjemahkan ke bahasa Arab mendapat sanjungan yang menarik dari para sastrawan Mesir. Dan tiga hari yang lalu, beliau diundang oleh mahasiswa Indonesia di Mesir untuk menjadi narasumber acara yang bertajuk Sarasehan Budaya, Sastra, dan Baca Puisi.

Semenjak acara dimulai, aku duduk dibarisan terdepan sebelah kanan beliau, inilah momentum yang paling aku tunggu-tunggu selama lima-enam tahun. Menatap wajah sang penyair yang paling aku damba. Penyair yang bersih dari sifat dan sikap yang tabu. Penyair yang tak hanya mengurai kata-kata namun juga menyisipkan di dalamnya sebuah ayat-ayat firman dan sabda.

Aku diberi kesempatan pertama oleh moderator sebagai penanya. Aku pegang mikrofon dengan kuat. Aku mulai dengan uluk salam dan berkata.
“Pak Taufik, perkenankan saya mencium tangan bapak, sebelum saya bertanya dan mengungkapkan apa yang ada di benak saya. Sebab apa yang ingin saya katakan ini telah lama terpendam di hati saya selama lima hingga enam tahun.”

Beliau pun mempersilahkan. Dengan rasa takzim, kucium tangan beliau seperti cucu mencium tangan kakeknya. Beliau pun tersenyum. Aku sampaikan pada beliau, bahwa lima-enam tahun yang lalu aku membacakan puisi beliau “Beri Daku Sumba”, duet dengan mantan calon istriku dan kami menjadi juara I se-Jawa Timur. Sontak bibir beliau tersungging diikuti tepuk tangan para hadirin. Aku minta beliau membacakan puisi itu dan menjelaskan mengapa puisi itu tercipta.

Beliau pun menerangkan seluk-beluk puisi, puisi itu tercipta saat beliau ingin ke Rusia dan berhenti sejenak di Uzbekistan. Di Uzbekistan, ternyata beliau melihat tanah lapang yang luas, derapan kaki kuda yang mengingatkan beliau kepada teman beliau yang juga penyair, yaitu Umbu Landu Paranggi. Umbu adalah seorang pujangga kelahiran Sumba. Dimana saat ia bertemu dengan Taufik Ismail, ia menceritakan perihal Sumba.

“Dan saat di Uzbekistan itulah, bapak menciptakan puisi Beri Daku Sumba itu, sebab di sana terdapat pemandangan seperti apa yang diceritakan oleh Umbu Landu Paranggi.” ungkapnya. Lalu beliau membacakan puisi itu dengan penuh hikmat dan menjiwai.

Dan saat ini, aku sedang menunggu naskah syair-syair beliau yang telah beliau janjikan saat aku bertemu beliau. Semoga naskah itu secepatnya ada di tanganku.

Terima kasih bapak Taufik, semoga akan ada penyair-penyair santun dan ikhlas seperti bapak. Amin.


Kairo, 16 April 2013


Selasa, 04 Desember 2012

Kyaiku, Kyaimu, Kyai Kita Bersama

Hampir satu tahun aku menunggu keberangkatanku ke Mesir. Akhirnya 1 Agusuts 2009, aku resmi dinyatakan lulus seleksi calon mahasiswa universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. Universitas Islam tertua yang telah melahirkan jutaan bahkan tak terhitung ulama terkenal seantero dunia mulai dari Imam As-Suyuti, Imam Al-Baijuri, Muhammad Abduh, hingga seorang ulama kontemporer yang sangat familiar Ramadlan Al-Bhouty dan Yusuf Al-Qardhawi.

Kejenuhanku menunggu hampir mendekati titik akut beragam pertanyaan menderaku,”Kapan berangkat ke Mesir?”, “Lho, gak jadi ya kuliyah di Kairo? Kok gak berangkat juga sampai sekarang?”. Ah, kupingku panas mendengar semua itu. Muak aku dibuatnya, tapi wajar jika semua orang yang mengenalku menanyakan hal itu. Dan…

****

Malam itu aku bermimpi. Almarhum kyai sepuh Romo Kyai Abdul Manan Syukur –pendiri pesantren Alquran Nurul Huda, Singosari (PPQNH) tempat aku nyantri- menghampiriku dan teman-temanku di sebuah warung kopi pojok kampung pesantren kami. Sebuah hal yang menjadi rutinitas seorang santri di pagi hari adalah “ngopi”. Almarhum kyai sepuh tak bicara apa-apa, beliau hanya menghampiri lalu pergi. Aku ikuti beliau dan mencium tangan beliau seraya beruluk salam. Aku tuntun beliau dan aku ungkapkan kegundahan hatiku kepada beliau.

”Kyai, tolong saya didoakan agar bisa cepat berangkat ke Mesir karena saya hampir satu tahun menunggu dan belum juga berangkat.” Ucapku.

 “Iya saya doakan tapi jangan lupa kamu harus ikut pengajian Habib –entah saya lupa namanya- . Oh ya pengajian kyai Bashori Alwi juga.” tutur beliau sembari terus melangkah menuju pesantren.

 “Iya kyai.” sanggupku.

 Dan kami pun telah sampai di pelataran pesantren.

****

Habib yang disebutkan kyai sepuh di mimpiku tadi ternyata telah wafat dan aku putuskan untuk menziarahi makamnya yang tak seberapa jauh dari kawasan pesantrenku. Lalu aku hadiri pengajian rutin kyai Bashori Alwi –pengasuh Pesantren Ilmu Qur’an (PIQ) yang hanya berjarak sekitar 900 meter dari pesantrenku- pada hari ahad. Kyai Bashori, begitulah beliau akrab di telinga masyarakat. Seorang kyai kharismatik yang mempunyai suara emas. Konon masa mudanya beliau mampu memecahkan hati yang telah lama membatu dengan merduanya tilawah Alquran. Dan beberapa bulan setelah mengikuti pengajiannya, aku pun terbang ke negeri Musa. Tanah impian para penghaus ilmu.

****

Aku teringat lagi momen dua tahun silam itu setelah mendengar khatib/imam salat Jum’at kemarin (24/8) membaca surat Al-A’la di rakaat pertama dan Al-Ghosyiah rakaat kedua. Baru kali ini aku menyimak seorang khatib/imam salat Jum’at membaca kedua surat tersebut karena kebanyakan mereka lebih memilih surat-surat pendek atau ayat-ayat pertengahan surat panjang. Ya, menyimak kedua surat itu dalam sebuah ritual mingguan Islam –salat Jumat-  melekatkan ingatanku pada kedua kyai sepuh berkharismatik, Almarhum Kyai Abdul Manan dan Kyai Bashori Alwi. Betapa tidak, seakan Almarhum Kyai Manan memberiku syarat nyantri  kepada Kyai Bashori sebelum pergi meninggalkan tanah air. Menurutku ini sebuah isyarat agar aku tidak hanya menjadi santri beliau saja tapi juga menjadi santri kyai Bashori meski barang sehari. Lalu tiba-tiba akalku menumpahkan sebuah opini, ”Seorang kyai bukanlah dimiliki oleh santrinya saja tapi kyai milik masyarakat bersama.”

****

Malam ini semua itu menjadi terkukuhkan dengan mimpiku. Aku terbangun pukul 01.00 CLT –waktu setempat- lalu salat dua rakaat sebagai rasa syukurku. Aku bertemu lagi dengan Kyai Bashori Alwi di alam tidurku. Aku duduk manis menunggu beliau yang hendak mengisi pengajian. Tiba-tiba aku terkejut, beliau berada tepat di depanku lalu bertanya.

“Dimana kamar mandi?”

Kucium tangan beliau lalu kutuntun beliau menuju kamar mandi. Kami berjalan 50 meter dari tempat pengajian menuju toilet masjid. Aku buka jubah beliau aku lipat dan aku taruh di kursi yang tak jauh dariku. Lalu kutuntun beliau ke dalam kamar mandi masjid. Aku menunggu di luar dan menjaga pintu karena pintu tak bisa ditutup dari dalam.

Begitu senangnya aku bisa melayani seorang kyai sepuh yang alim dan bijak. Lantas, ke mana santri –sopir- beliau? Oh mungkin dia masih sibuk memakirkan mobil hingga tak sempat melayani kyai. Tak lama santri-sopir- kyai datang. Sepertinya aku kenal wajahnya. Wajahnya lebih mirip dengan temanku sepesantren dulu. Achmad Zakky Fikri namanya. Ia pun turut masuk kamar mandi yang lain.

Setiap ada yang hendak menduduki bahkan meniduri kursi yang aku taruh di atasnya jubah kyai, aku berteriak mengumpatnya sembari tanganku mengepal ke atas dan pintu kamar mandi kyai pun terbuka. Aku meminta maaf kepada beliau, beliau diam saja. Ada juga seorang anak kecil hendak mencuri sandal sopir kyai, lagi-lagi aku lolongkan umpatanku dan pintu kamar mandi kyai pun terbuka kedua kalinya. Aku meminta maaf dan beliau hanya diam.

Setelah beliau selesai buang air besar, beliau ingin berwudu. Aku tuntun beliau. Tempat wudu masjid berada di ruang bawah tanah mengingatkanku pada masjid agung Sunan Giri, Gresik. Usai beliau wudu aku siapkan jubah beliau. Aku tuntun beliau lagi menelusuri gang perkampungan masyarakat sekitar masjid hingga beliau duduk di kursi yang telah disediakan panitia.

Panitia menyediakan minuman-minuman bersoda untuk kyai. Aku langsung naik pitam menolaknya demi kesehatan kyai. Kulihat di atas kitab beliau terdapat beberapa butir obat. Rupanya sudah waktunya beliau meminum obat.

“Kyai, ingin minum apa?” tanyaku.

“Air putih saja.” Jawab beliau dengan suaranya yang khas.

Setelah merapikan sandal kyai, aku bergegas mencari air. Panitia hanya bersikap apatis lebih memilih mengikuti pengajian kyai. Aku pinta ke beberapa rumah warga sekitar. Hasilnya nihil. 

“Ah begitu sulitkah menghidangkan air putih untuk kyai?” gumamku. Kuketuk pintu rumah warga yang lain, ia suguhkan air zam-zam tapi tercelup di dalamnya beberapa teh. “Hah, apa-apaan ini?” kesalku padanya. Kutelusuri rumah warga satu demi satu. Sepertinya warga di sini kekeringan air. Aku mulai risau, bagaimana tidak, hanya menghadirkan segelas air putih saja untuk kyai aku tak becus. Ah, kurang sempurna khidmatku jika aku tak menemukan air putih untuk beliau meminum obat.

Aku lari ke pojok kampung. Di sebuah lorong beratap pelepah itu ada asrama kecil untuk santri-santri TPA. Aku gedor pintu salah satu kamar. Aku meminta segelas air putih. Tapi,

“Wah air putihnya dijual mas bukan diberikan gitu aja.” seloroh salah seorang santri cilik.

Astaghfirullah, begitu susahnya hanya mencari segelas air putih. Aku rogoh sakuku. Ada beberapa keping uang tapi ini uang kyai yang jatuh dari jubahnya tadi bukan uangku. Kuacuhkan dia sebab aku tak bawa uang serupiah pun. Terbuka pintu kamar lainnya. Lagi-lagi aku meminta air putih. Ia memberiku sebuah botol susu kotak.

“Maaf mas, ini aku cuma punya susu.” kata seorang anak kecil.

“Allahu Akbar, kenapa sebuah hal yang kecil dan remeh saja begitu sukar aku menyelesaikannya, Tuhan?” keluhku.

****

Aku tersentak bangun. Ah, aku menyesal kenapa aku terbangun sebelum memberikan air putih untuk kyai? Apa isyarat dibalik semua ini?. Oh yah, Air putih memang alat untuk mensterilkan kesehatan. Sepintas aku mereka, apakah mimpi ini berarti bahwa mensucikan diri untuk tetap fitri itu tak semudah yang kita bayangkan. Media peyucian diri memang mudah dan murah layaknya air putih. Tapi untuk mendapatkannya tak segampang membalik telapak tangan. Terlepas dari itu, ini merupakan sebuah nikmat karena bisa berkhidmat kepada seorang kyai sepuh Singosari K.H. Bashori Alwi. Kyaiku, kyaimu, kyai kita bersama.

Kairo, 7 Syawal 1433 H -03:20 CLT-