Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juli 2014

Akhlak; Metode Dakwah Sesungguhnya

Suatu hari Rasulullah heran mengapa hari ini tidak seperti biasanya, tak ada lagi kotoran binatang di depan rumah. Umpatan dan sumpah serapah tak terdengar pula menyalak dan memekik sebagaimana lazimnya. Rasulullah pun bertanya-tanya ada apa gerangan orang kafir Quraisy yang rajin membuang kotoran binatang dan melempar kutukan tak melakukan rutinitasnya hari ini?

Setelah bertanya kepada sebagian penduduk Makkah, ternyata si ‘pelaku’ sedang sakit keras dan tak bisa keluar rumah. Rasulullah lalu bergegas ke rumah ‘pelaku’ membesuknya dan mendoakan kesembuhan untuknya. 

Selasa, 22 Juli 2014

Tuhan Mengadiliku Soal Pilpres 2014

Baiklah Tuhan, hamba akan bersaksi di hadapan-Mu tentang apa yang sudah hamba lakukan dalam Pemilu Pilres 2014 ini:

Tuhan, hamba bersumpah demi nama-Mu yang suci, hamba adalah pendukung dan pemilih calon pasangan Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subiano dan Hatta Rajasa. Dan selama berjalannya Pilpres baik sebelum pencoblosan atau seusai pencoblosan, hamba tidak mati-matian mendukung capres-cawapres pilihan hamba dan hamba tidak membabi buta menghina, merendahkan, dan bahkan menfitnah capres-cawapres lain yaitu Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Tuhan, sejujurnya ada salah seorang teman yang menanti tulisan-tulisan hamba di Facebook maupun blog tentang capres-cawapres yang hamba dukung karena kebetulan pilihan teman hamba itu sama seperti pilihan hamba, tapi hamba menolaknya lantaran hamba tak ingin tulisan-tulisan hamba mencederai beberapa teman hamba yang berbeda pandangan soal pilpres dengan hamba.  

Selasa, 28 Januari 2014

Aku, Istri Nabi yang Tertuduh

Sudah menjadi kelumrahan bilamana Rasulullah hendak bepergian, mengundi nama istri-istrinya. Nama siapakah yang keluar, dialah yang berhak mendampingi Rasulullah. Suatu ketika, Rasulullah hendak pergi berperang dan diundilah nama para istrinya. Dan ternyata namaku yang keluar, Aisyah binti Abi Bakar. Sontak wajahku merona gembira mendengar namaku tersebut, sungguh sebuah kehormatan bagiku bisa menemani beliau berjihad di jalan Allah. Peperangan dengan Bani Musthaliq itu selepas ayat Hijab turun. Aku pun dinaikkan di atas unta yang memanggul haudah –semacam tenda kecil sebagai penutup-.

Jumat, 13 September 2013

Anak Agen Zionis

Ah, mengapa aku tak kunjung bisa terlelap? Mengapa bayang-bayang itu masih menggelantungi pikiranku? Mengapa aku tak sanggup mengusirnya? Mengapa nuraniku selalu mendorongku untuk mengingatnya? Mengapa setiap memejamkan mata, peristiwa-peristiwa yang membuat mata menjadi mendung itu justru kian terekam dan menikam alam tidurku? Astaga, mengapa ini? Mengapa?

Entah berapa kali aku memulai tidurku tapi tak jua mata bisa mengatup, padahal mulut tak henti-hentinya menguap. Ya, apa yang aku tonton dari video-video milik ayahku yang disimpan di ruang kerjanya benar-benar membuat orang yang bernurani menyeka air matanya berkali-kali. Bagaimana tidak, video itu berisi kejadian-kejadian biadab yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Afghanistan, Irak, Lebanon, Palestina, dan Libya. Mulai dari pembunuhan, pembantaian, pemerkosaan massal, tertembaknya seorang balita sampai setengah dari tubuhnya terpisah, seorang ibu tua yang menjadi bulan-bulanan anjing, seorang bapak yang sedang menyelamatkan anaknya dari serangan tentara tak beradab ditembak kaki kanannya hingga terputus, seorang gadis kecil yang tak mampu menyeka air mata di tengah bangunan yang runtuh. Seorang pemuda yang hampir telanjang disetrum habis-habisan hingga sekarat. Ah, aku tak bisa meneruskan menonton video itu. Bagiku itu bukan tontotan. Tapi itu bukti kekejaman orang-orang yang tuna nurani.

Siang tadi memang ayah berkumpul dengan teman-temannya dari luar negeri di sebuah hotel. Entah apa yang mereka lakukan, yang jelas ayah membawa beberapa keping video mengenaskan itu. Ayahku bukanlah orang yang terkenal di negeri ini. Tapi ayahku mempunyai kolega yang luar biasa. Aku pernah bertanya kepada sopirku, apa sebenarnya bisnis ayahku hingga ia selalu merahasiakannya padaku. Sopirku pun membisu. Ayah hanya menjawab, “Ayah takut keselamatanmu terancam bila kamu tahu bisnis ayah.” Hasrat keingintahuanku semakin memuncak hingga akhirnya aku berhasil menguping komunikasi ayahku dengan salah satu koleganya melalui telepon. Ternyata ayahku wakil Amerika Serikat-Israel atau Zionis di Indonesia.

Semenjak ibu tiada, ayah memang sering keluar negeri yang aku pun tak pernah boleh ikut. Ayah juga sering mengundang teman-temannya dari berbagai belahan bumi sekedar pesta di rumah. Menenggak anggur dan membicarakan tajuk yang sangat intim. Entah bagaimana ceritanya ayah bisa menjadi agen Mossad untuk Indonesia? Semenjak Afghanistan porak-poranda, Irak hancur, Lebanon diserang bertubi-tubi, dan Palestina berhasil diduduki serta Libya dikuasai, kekayaan ayah semakin melimpah ruah. Rumah yang semula cukup mewah dibangun terus menerus hingga menjelma menjadi istana yang penuh dengan gemerlap kilauan emas dan permata. Tapi anehnya ayah tak jua masyhur.

Tak hanya kehilangan ibu, ayah juga kehilangan jalan hidupnya. Tak lagi beribadah, tak pula rajin bersedekah. Aku sebagai anak tunggalnya hanya difasilitasi segala kemegahan dunia. Asal dengan satu syarat, tak menanyakan pekerjaan ayah.

Setelah mengembalikan kepingan video tragis itu, tak sengaja aku menemukan dokumen berbahasa Inggris dan Arab. Sepertinya isinya sama hanya berbeda bahasa saja. Aku baca yang berbahasa Inggris. Astaga! Benar dugaanku. Selama ini konflik Suriah ternyata hasil rekayasa AS dan Israel. Astaga! Skenario apa lagi ini?

Sebelum pergi, ayah tadi bilang akan terbang ke Amerika Serikat, ayah menetap beberapa minggu hingga berbulan-bulan di sana. Apa mungkin ada sangkut pautnya dengan pemberitaan yang kini gencar di media massa bahwa Amerika Serikat akan menyerang pemerintah Suriah yang dipimpin Basyar Asad? Mengapa ayahku ikut serta dalam mendalangi kasus ini? Atau jangan-jangan ayah memang sudah menjadi salah satu dalang hancurnya negara-negara Timur Tengah? Afghanistan, Irak, Lebanon, Palestina, Libya dan sekarang Suriah? Bukankah ayah masih menyandang status Muslim?

Kutatap lagi lembaran-lembaran kertas tebal itu, kubaca dan telaah seteliti mungkin. Amerika Serikat dan Israel memang tak ingin negara-negara Arab bangkit dan mandiri. Amerika Serikat selalu bergairah menguasai dunia, agar semua negara tak bisa bernafas tanpa bantuan  udaranya. Ya, sedikitnya aku paham apa yang ditulis di kertas itu. Aku kuliah fakultas hubungan international, apalagi aku lebih fokus pada Timur Tengah. Itu pun ayah yang memaksaku. Astaga! Jangan-jangan kelak ayah menginginkanku menjadi penggantinya. Oh, Tuhan tidak! Aku tak mau! Aku tak ingin!

Jumat, 26 Juli 2013

Cemburunya Bidadari Surga

Aku mendengar suara sangat dahsyat yang menikam telingaku. Entah, apa itu. Jemariku tergerak, mataku sedikit terbuka, sedang mulutku masih mengatup. Pandanganku lurus tapi cahaya terang menyilaukanku. Apa ini? Apa yang terjadi? Secara perlahan badanku bergerak, duduk, berdiri lalu berjalan. Aku tak mau seperti ini. Mengapa aku bisa bergerak sendiri? Aku masih ingin memejamkan mata.

Sejauh mata memandang, terbentang luas dataran maha rata. Semua manusia juga terbangun dari tidur panjangnya. Astaga, aku telanjang. Hah, mereka juga telanjang. Tapi siapa mereka? Aku tak mengenalnya. Di mana ayah-ibuku? Di mana istri dan anak-anakku? Di mana teman akrabku? Tetangga, sahabat, guru, di mana orang-orang yang aku kenal?

Semua berjalan pada satu titik tujuan. Begitu juga dengan aku. Aku berjalan dengan rasa dahaga yang amat mencekik. Kuedarkan pandanganku ke kanan dan ke kiri. Mengapa mereka dengan riang menaiki kuda? Sedangkan sebagian lain berjalan dengan kaki telanjang sepertiku. Mengapa pula ada yang berjalan dengan menggunakan perut bak ular? Malang sekali. Di mana kaki-kaki mereka? Aduh, tak hanya tenggorokan yang kemarau menderaku, panas yang amat menyengat juga membakar kulitku. Aku tak kuasa mendongakkan kepala. Matahari berada pas sejengkal dari ubun-ubunku. Hah, apa-apaan ini? Mengapa begini? Kehidupan apa ini? Tanpa kuayunkan langkahku, kakiku bergerak sendiri. Sedikit cepat tetapi tak mampu menandingi langkah kuda kaum bahagia itu. Setidaknya aku bersyukur karena sedikit lebih beruntung ketimbang mereka yang merangkak seperti bayi.

Aku dimana? Mereka siapa? Mengapa aku tak mengenal satu pun dari mereka? Mereka larut pada keadaan masing-masing hingga tak mampu bertegur sapa bahkan sekedar menoleh. Aku pun sibuk dengan diriku. Panas, lapar, haus, berkeringat, dan….
 Ya Tuhan, air apa ini yang menggenang di lututku. Semakin sukar kakiku melangkah. Dan mereka yang merangkak, hampir tenggelam, tak bisa bergerak.

Entah berapa lama perjalanan ini. Dan akhirnya semua terkumpul di tanah lapang yang amat luas.  Kulihat di depan ada sebuah panggung panjang dan berdiri di atasnya dua puluh lima pemuda tampan dan gagah sembari membawa bendera. Meski agak kesulitan, kupaksa menerka tulisan yang terpampang di bendera itu. “Muhammad Rasulullah”, sepertinya aku kenal tulisan itu. Astaga, itu nama Nabiku, Muhammad. Tanpa digiring, aku sudah berdiri di barisan itu meski berada di sisi belakang.

Bosan dan muak rasanya berdiri lama tanpa sekat kepala. Terdapat payung besar terbentang di barisanku bagian depan. Lagi-lagi aku kesal, mengapa tak sampai di tempatku berdiri? Tapi, setidaknya lagi-lagi aku lebih beruntung dibanding mereka yang baru datang dengan perut yang tak tega untuk dilihat.

Semua mengantri pada satu pintu, entah pintu apa itu. Di sana terdapat makhluk yang bukan manusia sibuk memanggil nama satu per satu. Matahari masih menyengat. Kenapa tak ada sore, malam dan petang? Ah, benar-benar kehidupan yang sulit dimengerti. Dan segala puji bagi Tuhan semesta alam, umat Nabiku Muhammad mendapat kesempatan pertama mengantri di depan pintu itu.

Semakin dekat dengan pintu itu, dadaku semakin berdegup kencang, badanku tiba-tiba menggigil. Ingin kulari tetapi kakiku memberat. Tak ada gerak mundur, hanya maju selangkah demi selangkah. Ya, ya. Satu hal yang amat melekat di depan mataku. Sebuah timbangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya berdiri tegak gagah di depanku. Ah, bagaimana ini? Aku takut. Aku malu. Aku tak mau. Ternyata setelah melewati pintu timbangan itu, manusia digiring ke arah kiri atau kanan. Entah menuju ke manakah mereka, masih terlalu buram dan gelap untuk aku selidiki.

Dengan terpaksa aku memenuhi panggilan namaku. “Kamu Fulan?” ucap makhluk itu.

“Iya,” jawabku.

Kupejamkan mataku. Mulutku ingin membela tapi entah mengapa tiba-tiba terbungkam. Tangan dan kakiku berbicara tentang apa yang aku lakukan dulu di dunia. Ah, celaka! aku tak bisa lagi berbohong. Bagaimana ini?

“Neraka!” teriak makhluk itu. Sontak mataku membelalak. Kulihat api panas menganga siap menjilat siapa saja. Aduh, mana ayah-ibuku? Mana istri dan anak-anakku? Temanku, tetanggaku?

Dengan terpaksa aku turuti kemauan makhluk itu. Alamak, makhluk apa lagi ini? Ia begitu bengis, bermuka merah, berbadan besar, bertangan baja dengan membawa cambuk yang terbuat dari api. Diakah malaikat penunggu neraka? Aduh, matilah aku. Tamatlah aku. Hancurlah aku. Tak satu pun ada yang menoleh kepadaku. Hanya tatapan mata kemarahan makhluk di depan neraka itu yang bisa kuterima. Aduh, bagaimana ini?

Dengan terpaksa kuayuhkan kakiku. Dan, “Hai Fulan, ayo ikut aku!” ajak seorang makhluk putih tampan yang sejak tadi belum aku jumpai. Tanpa bertanya aku ikuti dia. Paling tidak, dia menuju ke arah yang berlawanan dari danau luapan api itu. Syukurlah, aku sedikit terselamatkan.

Usai sampai di sebuah tempat yang tak kutahu, makhluk itu hilang. Entah kemana. Lalu, “Hai, Fulan. Karena kasih-sayang-Ku, masuklah kau ke dalam surga.” Aku hanya bisa mendengar suara itu. Mataku tertutup, tak bisa melihat. Gelap. Gegap. Tapi suara itu jelas. Kucoba menegakkan kepala, tapi tak kuasa. “Fulan, masuklah surga karena kasih-sayang-Ku.” Suara itu kembali terdengar.

Aku bingung, “Bagaimana bisa?” gerutuku dalam hati.

“Fulan, masuklah surga karena kasih-sayang-Ku. Sebab selama di dunia, kau tak pernah makan mendahului istrimu.” ulang-Nya. Dan kini suara itu menyebut alasan kenapa aku bisa masuk surga. Ah, aku tak seberapa yakin. Bagaimana tidak, sebuah amal yang sesederhana itu mampu menyelamatkan ahli neraka dari jilatan api Jahanam? Apakah nilai kebaikan yang tulus mampu melampaui sebuah keimanan yang tercemar? Aku tak rajin beribadah, juga jarang berpuasa. Tak pernah salat sunnah. Ah, entahlah yang penting aku selamat dari cambukkan makhluk yang menyeramkan tadi.

Lega dan tak sabar ingin segera menikmati surga yang konon penduduknya akan disambut 40 bidadari cantik, putih tiada tandingnya. Aku percepat jalanku. Tak jauh dari langkahku tertulis, “Selamat Datang, Wahai Para Penduduk Surga!.” Aduhai, indah sekali. Inikah yang disebut taman surga? Kulihat wanita-wanita cantik yang menyambut di sana. Putih, bersih, mancung, berseri, dan tak pernah aku temui wanita-wanita seperti ini sebelumnya. Aku hentikan langkahku. Aku teringat kenapa aku bisa masuk surga. Oh, ke mana istriku sekarang? Di mana dia? Tidakkah ia menyambutku di pintu masuk taman surga ini? Aku hentikan derap langkahku enggan mendekat taman surga itu. Aku memandang jauh tak pula mendapatkannya. Istriku, kau ke mana, Sayang?

Di depan mataku, berjejer puluhan wanita cantik sembari melambaikan tangan. Tak satu pun dari mereka yang kukenali. Istriku, istriku. Aku tak akan mau masuk taman itu sebelum bertemu istriku. Kenapa dia tak menyambutku. “Tuhan, gantilah puluhan bidadari itu dengan satu wanita yang membuatku masuk surga, istriku.” keluhku.

Dan dengan sekejap para bidadari itu tak terlihat lagi. Tiba-tiba, melela dengan amat gemulai dan lembut wanita cantik sekali. Ia melambaikan tangannya. Aku tahu dia. Dia istriku. Aku berlari secepat mungkin. Kukecup keningnya. Dia mencium tanganku. Kupandang lekat wajahnya, dia terlihat jauh lebih anggun. Senyumnya mengumbar cinta yang tak terkalahkan. Dia amat cantik sekali. Cantiknya sungguh keterlaluan. Kukecup lagi keningnya. “Apa kabar, Sayang?”  tanyaku.

***

Aku tersentak bangun. Begitu deras keringat di keningku. Kucari ponselku. Ternyata masih pukul 03.15. Kupandangi istriku. Wajahnya putih bersinar meski sedikit pasi. Ya Tuhan, wajahnya sama persis seperti yang aku lihat tadi. Ah, ternyata itu hanya mimpi. Ya, tak ada lagi orang yang merangkak bak ular. Tak ada lagi makhluk yang menyeramkan. Tak ada lagi taman surga yang dihiasi puluhan bidadari cantik. Sekarang hanya ada istriku yang tergeletak tenang di sampingku. Biasanya ia sudah bangun dan salat malam. Ah, selama beristri dengannya, tak pernah aku salat malam. Ia pun tak pernah memprotes dan mendikteku. Karena letih bekerja, ia hanya membangunkanku untuk salat subuh. Itu pun terkadang matahari hendak menyingsing.

Tak ada salahnya, aku salat sunnah malam ini. Kukecup kening istriku. Kuelus wajah cantiknya sembari menepuk lembut pipinya. Ia membuka mata.

“Gak salat malam, Sayang? Mumpung masih ada waktu lho. Salat bareng, yuk?” ajakku.
Ia hanya membalas dengan senyuman. Senyuman yang tak pernah begitu mengembang sebelumnya.

***

Kami siap untuk salat malam berjamaah. Subhanallah, sungguh istriku terlihat amat cantik justru tatkala mengenakan mukenah meski mukanya agak memucat. Mungkin ia kelelahan.

“Kamu sakit, Sayang?” tanyaku.

Dia menggeleng. “Aku hanya ingin menjadi wanita dunia yang mampu membuat cemburu para bidadari surga, Mas.” katanya.

Kuamini cita-citanya. Kami pun salat dua rakaat.

Kusudahi salat kami dengan salam. Lalu beristighfar dan berdoa. Istriku masih bersujud, mungkin ia meminta citanya dalam sujud terakhirnya. Aku biarkan saja dia sembari membaca al-quran surat Ar-Rahman.

Azan subuh berkumandang tetapi istriku tetap saja dalam keadaan sujud. Kucoba menyadarkannya. Kusentuh pundaknya.

“Sayang, sudah adzan subuh.” bujukku.

Tapi ia tetap membisu. Kugerak-gerakkan tubuhnya. Ia kaku dan tak bernapas. Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun… ia meninggal dalam sujudnya. Ia bertemu Tuhannya dalam balutan putih mukenahnya. Ia mampu meraih cita-citanya.  “Aku hanya ingin menjadi wanita dunia yang mampu membuat cemburu para bidadari surga, Mas.” Aku menangis haru teringat ayat Tuhan yang tadi kubaca di surat Ar-Rahman; “ Di dalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang cantik dan jelita.”


Kairo, 06 November 2012 ; Adzan Subuh
*Setelah mendengar kabar seorang mahasiswi Undip meninggal karena kecelakaan dan usai membaca motto hidupnya, akhirnya saya putuskan untuk menulis cerpen ini.


Selasa, 04 Desember 2012

Arti Namaku itulah Aku*


Sangat nyaman dan segar. Memang Tuhan tak pernah salah dalam setiap keputusan-Nya. Ia jadikan zuhur salah satu waktu salat untuk menyelamatkan kepala manusia dari panasnya sengatan matahari. Setelah kuguyur semua bagian kepala dan kusempurnakan wudu, aku bergegas mengisi saf yang ada. Barisan salat lengang, sepertinya sebagian besar mahasiswa masih ada mata kuliah. Berbeda dengan fakultasku, Tafsir-Hadist, setiap hari kamis kami hanya terbebani satu mata kuliah.

Sudah sewajarnya sebagai mahasiswa IAIN Surabaya yang telah menginjak semester 7 dan hampir mendapatkan gelar sarjana mempunyai laptop dan sepeda motor. Namun itu bukan diriku. Aku hanya anak seorang petani yang mengandalkan beasiswa untuk bisa bertahan hidup di kota metropolitan ini. Hanya bermodal komputer butut yang aku beli dari salah seorang teman dengan pembayaran berangsur, aku bisa melalui hari-hari study-ku di universitas paling terkemuka di Jawa Timur. Juga tak jarang tulisan-tulisanku termuat di salah satu media terkenal Surabaya. Lumayan untuk meringankan biaya kos yang mencekik. Untuk bepergian, jelas aku bertumpu pada kedua kakiku dan angkutan umum.

Setelah salat, aku sempatkan membeli kertas A4 dan tinta print di belakang kampus. Lalu menunggu angkutan umum menuju rumah temanku. Ia memintaku menemaninya membeli HP Blackberry keluaran terbaru. Ah, orang berduit memang tak ada puasnya dengan dunia. Aku saja tak pernah ganti HP semenjak meninggalkan kampung halaman, setia pada Nokia 3210.

Bemo yang digambarkan oleh temanku lewat telepon tadi datang. Aku lambaikan tanganku, lalu aku duduk di kursi pojok sebelah kanan. Hanya ada lima orang yang masih sudi naik angkutan umum semacam ini karena sebagian besar orang metropolitan lebih memilih membeli motor ketimbang berpanas-panasan menunggu angkutan umum.

Sekitar seratus meter sopir menjejakkan kakinya, naiklah seorang perempuan berkerudung hitam panjang. Aku taksir dia juga mahasiswi, tetapi biarlah aku tak mengenalnya. Tak lama kemudian, bemo berhenti hendak menaikkan seorang gadis cantik, putih berpakaian minim. Sangat minim. Ia mengenakan kaos putih ketat tak berlengan dan hampir memperlihatkan seluruh dadanya. Hanya 20 cm rok hitam yang membalut bagian bawahnya. Astaghfirulloh, kenapa aku sejeli itu menilainya. Astaghfirulloh, bukankah hari ini aku sedang berpuasa?. Kucerca diriku berkali-kali seraya meminta ampun kepada sang Rabbi.

Allah, gadis itu duduk tepat di depanku. Pojok sebelah kiri di samping perempuan berkerudung panjang tadi. Darahku berhenti mengalir. Tanganku mengepal. Kupejamkan mataku sembari beristighfar. Hatiku mendesah, "Tuhan, aku sedang berpuasa. Huh, anak siapakah gadis itu? Apa orang tuanya tidak mengajarkan tata cara berpakaian? Atau cuaca panas Surabaya menjadi alasan ia mengumbar auratnya?”

Ia berusaha menutup paha mulusnya dengan buku diktat kuliah yang ia bawa, Estetika Sastra Indonesia. Di pojok cover depan tertulis namanya Aisyah Qonita Bella. Aku tercengang usai membaca namanya. Mataku melotot seakan tak terima. Kesekian kalinya hatiku bergemuruh, "Bagaimana tidak memalukan seorang gadis yang bernama istri Rasul berpakaian seperti ini?." Lagi-lagi aku kesal dibuatnya. Seakan-akan islam hanya sebuah legalitas agama belaka. Sangat kontras kedua wanita yang kini ada di depan mataku. Seolah terpandang jauh antara surga dan neraka. Namun nuraniku menepisnya. Bukankah sabda Nabi menjelaskan bahwa ada seseorang yang rutin mengamalkan amalan ahli surga tetapi di sisa hidupnya ia berbalik mengamalkan amalan ahli neraka lalu mati dengan cap PENGHUNI NERAKA. Ah, entahlah. Aku tak mau menghakimi orang lain.

Di kantor pos depan aku akan turun. Rumah temanku tak jauh dari kantor pos itu. Dengan berat hati aku beranikan sedikit bertanya kepada gadis berpakaian mini tadi, "Mbak, tahu gak apa artinya Aisyah Qonita Bella?"

"Gak tahu, Mas." Jawabnya kaget karena ada yang memberinya perhatian.

"Seorang perempuan yang tunduk kepada Allah." singkatku. "Kiri pak sopir." Aku turun dan membayar ongkos bemo lalu berjalan tak menghiraukan gadis itu. Aku berhak muak dengan penampilannya, karena terumbarnya aurat bisa mengkembang-kempiskan imanku. Ah, bukannya aku sok suci tapi ini ajaran agamaku, agama gadis itu dan agama kita. Ini syariat dan prinsip agama bukan harga suatu barang pasar yang bisa ditawar. "Kehidupan kota sangat memilukan. Tak jauh beda juga dengan desa. Jika di kota para gadis cantik yang berpakaian minim tetapi di desa para nenek tua yang hanya berpakaian selembar-dua lembar kain." Senyumku hampa.

****  

Setelah mandi, salat maghrib dan berbuka, seperti biasa kubaca Alquran. Kurampungkan hingga akhir surat Al-Ahzab sebab targetku setiap bulan bisa menamatkan Alquran. Tak lama setelah itu, HP tuaku berdering. Rupanya ada sebuah pesan masuk :

Aslmkum. Mas Mustafa ya?trims ya udh ngasih tahu arti namaku tdi. Ni diktat kuliah mas ktinggln dbemo. Skli lg trm ksh ats ilmux. Aisyah jd sdar gmn shrsnya mnjdi prmpuan n Aisyah jnji ma dri Aisyah sndr mlai skrg brpkain rapi n brkerdung. Trms ya?
Aisyah Qonita Bella

Astaghfirulloh, kenapa aku sampai lupa dengan diktat kuliahku. Untung di setiap buku diktatku aku cantumkan nomor HPku agar jika hilang atau terbawa oleh teman bisa dikembalikan dengan mudah. Namun biarlah mungkin kejadian ini alat untuk mengingatkan gadis itu.

Wlkmslmwrwb. Iya sm2 mbk kt slng mngingtkan ssma mslim. Alhmdlh klo mbk skrg sdar. Wah gmn aku hrs ngmbilx mbk? Balasku.

Gni ja sbtu bsok aku ksong gk da makul. Ntr aku antr ke kmps IAIN deh? Gmn?  

Okey. O, iya baca terjemahan Alquran surat Al-Ahzab ayat 59, ya?

Siap. Singkatnya.

Alhamdulillah, setetes kasih sayang petunjuk Allah telah jatuh hari ini teruntuk hambanya. Aisyah Qonita Bella.


Kairo, 27 Agustus 2012

*Sebuah Cerpen Fiksi yang masih merah (Amatiran)